25 Oktober 2021

Jadi Pembicara Seminar Soal Stunting, Buwas Kenalkan Beras Bervitamin di Kalsel

2 min read

Direktur utama Perum Bulog (baju batik) saat memperlihatkan beras bervitamin kepada wartawan di Banjarmasin

BANJARMASIN – Ternyata, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga, dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017, dengan angka mencapai 36,4 persen. Namun pada 2018, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angkanya terus menurun hingga 23,6 persen. Diketahui pula, stunting pada balita di Indonesia pun turun menjadi 30,8 persen. Namun jika merujuk standar WHO, batas maksimal stunting adalah 20 persen, maka penurunan kasus di Indonesia ini masih harus terus diupayakan.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka stunting di Indonesia. Perlu diketahui, stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang antara lain disebabkan gizi buruk. Anak dikatakan stunting, ketika pertumbuhan tinggi badannya tidak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia. Salah satu upaya itu, dilakukan Perum Bulog, dengan memproduksi beras bervitamin Fortivit. Bahkan pada seminar yang membahas soal stunting pada rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020 di Kalimantan Selatan, secara khusus direktur utama Perum Bulog Budi Waseso memperkenalkannya kepada publik di Banjarmasin, saat menjadi pembicara seminar di RSUD Ulin Banjarmasin.

Persoalannya kemudian, harga satu kilogram beras bervitamin ini masih terbilang mahal, sekitar 20 ribu rupiah per kilogram. Mengingat bahan baku vitamin yang dimasukkan dalam beras, masih didatangkan dari luar negeri alias impor. Sehingga mau tidak mau, Bulog terpaksa menetapkan harga lumayan tinggi.

“Ini kan baru tahap awal. Kita sudah penjajakan untuk bahan baku vitamin dari dalam negeri, yang pastinya akan menurunkan biaya produksi. Sehingga harganya dapat ditekan menjadi sekitar 12.000 hingga 14.000 rupiah per kilogram. Prosesnya kita harapkan dapat segera dilaksanakan,” jelas lelaki yang biasa disapa Buwas kepada wartawan di Banjarmasin baru-baru ini.

Lebih jauh Buwas menjelaskan, pihaknya siap mendistribusikan beras ini ke seluruh Indonesia. Namun kembali terkait persoalan harga yang masih terbilang mahal, maka penyebarannya dikhawatirkan tidak merata. Untuk mengatasi masalah penyebaran beras Fortivit ini ke seluruh wilayah Indonesia, maka menurut Budi Waseso dapat dilaksanakan melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), yang memastikan penerimanya adalah dari kalangan keluarga tidak mampu. Mengingat kebanyakan kasus stunting muncul di kalangan tersebut.

“Ya inilah saya bilang tadi, tidak bisa mengatasi stunting ini diserahkan kepada satu kementrian/lembaga, tapi harus secara keseluruhannya ya. Nah ini bisa salah satu, disalurkan melalui kegiatan BPNT. Kalo beras fortifikasi ini bisa masuk, atau diasup oleh kalangan keluarga tidak mampu penerima BPNT, maka itulah salah satu cara kita mengatasi masalah stunting itu,” tambahnya.

Beras Fortivit ini dipastikan mengandung banyak vitamin, yang diperlukan untuk tubuh. Diantaranya vitamin B kompleks, Zink, serta zat besi. Dengan mengonsumsi beras ini, diantaranya dapat menjaga kesehatan tulang, membantu mengatasi masalah sulit tidur, menjaga fungsi jantungz serta yang utama adalah membantu masalah stunting. Beras ini dimasukkan dalam kemasan kedap udara agar awet dan tahan lama, serta aman dari kutu serta kelembaban. (RIW/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?