28 Oktober 2021

Hingga 2020, Baru 6 Kabupaten Di Kalsel Yang Miliki Alat Deteksi Dini Banjir

2 min read

Kepala BPBD Kalsel saat meninjau langsung banjir di Cempaka Banjarbaru pada pekan lalu

BANJARBARU – Seperti kita ketahui bersama, bahwa Provinsi Kalimantan Selatan termasuk daerah rawan bencana banjir, setiap musim hujan tiba. Tak terkecuali pada tahun ini, dengan tingkat curah hujan yang diperkirakan lebih ekstrim dibanding tahun-tahun sebelumnya, bahkan sejak awal tahun 2020. Terbukti, baru beberapa hari memasuki tahun 2020, 3 kabupaten di Kalsel sudah dilanda banjir. Mulai dari Tapin, Kabupaten Banjar hingga Kota Banjarbaru, dengan ketinggian air hingga mencapai 2 meter, akibat tingginya curah hujan. Diprediksi, kondisi hujan dengan intensitas tinggi dan lama ini, akan terus berlangsung hingga 15 Januari mendatang. Terkait hal ini, Pemerintah Provinsi Kalsel pun, sejak jauh-jauh hari mengingatkan soal ancaman banjir ini, melalui surat edaran Gubernur Kalsel Sahbirin Noor pada Oktober 2019. Dimana isinya adalah mengingatkan setiap daerah rawan bencana pada musim hujan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Bahkan, Pemerintah Provinsi pun juga sudah menetapkan status siaga darurat banjir, terhitung mulai 3 Januari hingga 31 April mendatang.

Selain itu, sejak beberapa tahun terakhir ini, Pemerintah Provinsi juga sudah membangun sistem penanggulangan bencana musim hujan khususnya banjir, dengan membeli alat pendeteksi dini banjir. Alat ini terpasang di kawasan hulu sungai, yang akan memberikan sinyal melalui SMS, jika debit atau permukaan air sungai meninggi. Sehingga dengan begitu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten serta Provinsi, dapat mengingatkan masyarakat soal adanya ancaman bahaya banjir.

“Saat ini kita sudah memiliki 8 alat pendeteksi ketinggian debit air itu, dan sudah dipasang di daerah hulu sungai di 6 Kabupaten. Sebagian besar dipasang di Kabupaten kawasan Banua Enam, yakni Tabalong, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, kemudian Kabupaten Banjar dan Tanah Bumbu,” jelas kepala BPBD Kalsel Wakyuddin kepada Abdi Persada baru-baru ini.

Sayangnya menurut Wahyuddin, karena mahalnya harga alat buatan BPPT itu, maka pihaknya baru dapat memasang alat ini di kawasan rawan banjir, atau yang selalu langganan banjir setiap tahunnya.

“Kita menargetkan, dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kita sudah dapat membeli lebih banyak alat ini, sehingga seluruh daerah aliran sungai di 13 Kabupaten Kota di Kalsel, dapat dipasangi alat ini. Termasuk Kota Banjarbaru, yang pada Minggu (5/1) lalu mengalami banjir terparah hingga saat ini,” tambah lelaki yang biasa disapa Ujud tersebut. (RIW/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?