20 Oktober 2021

Kalsel Berpotensi Jadi Pusat Perfilman Baru Indonesia

2 min read

BANJARMASIN – Bukan rahasia lagi, jika Kalimantan Selatan banyak memiliki pengusaha, khususnya bidang pertambangan batubara. Hal itu mengingat, provinsi ini kaya akan sumber daya alam “berlian hitam” tersebut. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dan semakin menipisnya simpanan batubara di perut bumi, maka sudah sewajarnya lah jika banyak para pengusaha tambang yang banting setir merambah bisnis lain. Salah satunya adalah perkebunan sawit.

Meski menjanjikan, namun bisnis inipun kini tengah didera masalah isu kerusakan alam, sehingga harga produk CPO di pasar dunia tidak begitu menggembirakan.

“Para pengusaha Banua seharusnya dapat melihat peluang pada sektor ekonomi kreatif. Karena sektor ini menekankan pada kreativitas yang tidak ada batasnya, maka peluang untuk terus berkembang sangat besar. Salah satunya adalah industri perfilman,” jelas salah seorang produser film asal Kalimantan Selatan Budi Ismanto, usai acara nonton bareng film Koboy Kampus di Banjarmasin, akhir pekan lalu.

Lelaki yang biasa disapa Budi Engot itu mengatakan, bisnis dunia perfilman sangat menjanjikan, apalagi saat ini di Banjarmasin dan Kalsel pada umumnya, sudah semakin banyak saja sineas muda bermunculan.

“Kemampuan mereka tidak kalah dengan sineas dari pulau Jawa. Hanya saja mereka kekurangan dari sisi finansial. Disinilah peran pengusaha bermain, sebagai pemodal bagi mereka. Bahkan bukan tidak mungkin, jika Kalsel kedepannya bakal menjadi pusat perfilman selanjutnya, setelah Yogya, Surabaya dan Makassar,” jelasnya.

Untuk saat ini menurut Budi, rumah produksi yang menaunginya tengah berkonsentrasi untuk membuat lanjutan film box office Dilan. Namun dalam beberapa tahun ke depan, pihaknya juga akan membuat film berlatar belakang budaya lokal, dengan pengambilan lokasi di Kalsel, namun dapat dipasarkan secara komersil ke ranah nasional.

“Kita lihat Surabaya sudah berhasil dengan film Yo Wes Ben. Begitu juga Makassar dengan film Uang Panai. Nah kita tengah mencari budaya lokal yang dapat diangkat menjadi film, yang nantinya tetap dapat dijual secara nasional,” tutupnya. (RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?