20 Juni 2021

Jaga Inflasi, BI Pun Panen Sayuran

2 min read

(ki-ka) Kabulog Divre Kalsel, Kabiro Sarpras Ekonomi Kalsel, Kadis Ketahanan Pangan Kalsel, Ass III Sekdrapov Kalsel, KPw BI Kalsel, Wawali Banjarbaru, Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel saat panen perdana cabai pada Kamis (20/12).

BANJARBARU– Berdasarkan data kantor perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, kondisi inflasi Kalsel saat ini cukup terkendali. Secara tahunan, per November 2018, inflasi Kalimantan Selatan tercatat sebesar 2,75 persen (yoy), lebih rendah dari inflasi pada November tahun 2017 yang sebesar 3,9 persen (yoy). Angka tersebut juga lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 3,23 persen (yoy).  Meski begitu, inflasi bahan makanan cenderung agak lebih tinggi yaitu sebesar 6,06 persen (yoy). Beberapa komponen yang cenderung persisten menekan inflasi antara lain sub kelompok ikan, bawang merah, maupun telur ayam ras.

Kondisi ini tentunya menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk Bank Indonesia.

Menurut kepala perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan Herawanto,  inflasi kerap muncul karena faktor ketidakseimbangan antara suplai dengan permintaan.

‘TPID dalam hal ini telah memberikan rekomendasi untuk mengatasi kendala pada sisi suplai melalui pemberdayaan Rumah Pangan Lestari (RPL), dengan terobosan baru. Sebagai informasi, RPL merupakan implementasi rekomendasi pengendalian inflasi dari TPID, yang dimasukan dalam Roadmap Pengendalian Inflasi Inflasi Tahun 2015-2018,” jelas Herawanto dalam sambutannya saat panen raya di RPL Bumi Tangi kawasan jalan Ahmad Yani kilometer 23 Banjarbaru, Kamis (20/12).

Dalam hal ini, menurut Herawanto, RPL tidak sekadar memanfaatkan lahan tidur di pekarangan, tetapi juga di lingkungan instansi atau korporasi yang tidak tergarap. Bahkan tidak hanya tanaman sayuran yang dikembangkan, tetapi juga ikan dan ternak untuk kebutuhan sehari-hari.

“Tanaman yang kami kembangkan yakni tomat, cabai, dan sawi. Tidak hanya itu, kami juga mengembangkan ikan lele di kolam terpal,” jelasnya lagi.

Herwanto menambahkan, RPL ini juga menjadi wadah pemberdayaan karyawan outsourcing yang bertindak sebagai pengelola. Mulai dari messenger, satpam, pengemudi, dan cleaning service. Hal ini sebagai upaya memberikan nilai tambah ekonomi, melalui konsumsi pribadi ataupun dijual bagi para pengelolanya.

Sementara itu, Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan yang juga hadir pada kegiatan panen raya ini, mengaku bahagia dan bangga, karena dirinya dapat turut serta dalam kegiatan panen raya di RPL ini, setelah sebelumnya juga turut serta melakukan penanaman perdana beberapa bulan lalu.

“Program RPL ini sudah kami terapkan juga di jajaran pemerintah kota Banjarbaru. Hanya saja kami baru melaksanakannya di kawasan pekarangan, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kedepannya, pemko Banjarbaru juga akan berguru pada RPL Batu Tangi, untuk memanfaatkan lahan tidur di kawasan perkantoran,” jelasnya kepada wartawan.

Pada kesempatan ini, BI Kalsel menyelenggarakan pelatihan budidaya tanaman dalam polybag dan hidroponik kepada PKK dan pesantren selama 2 hari. Tujuan pelatihan tersebut yaitu agar peserta pelatihan dapat mereplikasi RPL ini di  lingkungan masing-masing. Dengan harapan, RPL tidak sekadar aktivitas temporal, tetapi menjadi bagian dari upaya stabilisasi harga yang struktural. Sebagai bagian dari rantai bisnis pemenuhan suplai untuk menahan tekanan inflasi. (RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.