16 Juni 2021

Musim Hujan, Waspada DBD !!!

2 min read

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Muhammad Muslim.

BANJARMASIN – Sejak Oktober 2018 lalu, hampir sebagian besar wilayah provonsi Kalimantan Selatan sudah memasuki musim hujan. Dan puncaknya sudah mulai terjadi pada Desember 2018 ini dan Januari 2019 mendatang. Hal itu ditandai dengan semakin tingginya curah hujan di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Terbukti sejak awal Desember tadi, hampir setiap hari khususnya pada siang hingga menjelang senja, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur hampir seluruh daerah di provinsi ini. Bahkan hujan yang turun, juga disertai angin kencang, petir serta kilat. Kondisi ini tentunya dapat berpotensi menyebabkan bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Selain potensi bencana, curah hujan tinggi juga sangat berpotensi menimbulkan penyakit. Salah satunya adalah demam berdarah dengue (DBD) yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti.

Kepada Abdi Persada FM, kepala dinas kesehatan Kalimantan Selatan Muhammad Muslim mengatakan, pada Desember ini sudah terjadi lonjakan kasus DBD hingga 50 persen.

“Hal itu seiring dengan tingginya curah hujan, yang menyebabkan timbulnya genangan air. Padahal kita ketahui bahwa genangan air khususnya yang bening, menjadi lokasi favorit nyamuk DBD untuk berkembang biak,” jelasnya saat ditemui usai menghadiri HUT Dharma Wanita Persatuan ke-19 di gedung Mahligai Pancasila Banjarmasin pada Rabu (12/12).

Oleh karena itu menurut Muslim, pihaknya sudah meminta kepada seluruh bupati/walikota untuk menerbitkan surat edaran soal kewaspadaan terhadap penyakit DBD.

“Beberapa kepala daerah sudah menyikapi hal ini dengan langsung menerbitkan surat edaran. Bahkan ada pula yang terjun langsung melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Khususnya terkait gerakan 3M untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk DBD,” tambahnya.

Data dinas kesehatan provinsi menyebutkan, terhitung sejak Januari hingga November 2018 lalu, tercatat ada 607 kasus DBD di Kalimantan Selatan. Pada Desember ini, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 700-an kasus. Penyakit mematikan ini merata terjadi di 13 kabupaten/kota, namun beberapa diantaranya memang jauh lebih banyak dibanding yang lain. Contohnya kota Banjarmasin dan Banjarbaru. (RIW/FHF/EYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.