20 Juni 2021

Teringat Pesan Pangeran Antasari, Paman Birin Pun Terisak

2 min read

Gubernur Kalsel menitikkan airmata saat membacakan pesan Pangeran Antasari pada peringata wafatnya yang ke-156 tahun pada Kamis (11/10)

BANJARMASIN – Rasa haru seketika menyeruak, saat gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor membacakan sambutan, sekaligus pesan Pangeran Antasari, pada peringatan 156 tahun wafatnya pahlawan nasional asal Kalimantan Selatan tersebut, di komplek pemakaman pahlawan nasional, kawasan Malkon Temon Banjarmasin, pada Kamis pagi (11/10).  Dengan menahan isak, gubernur yang biasa disapa dengan Paman Birin itu pun, mulai membacakan satu persatu pesan Pangeran Antasari. Para peserta upacara yang terdiri dari siswa sekolah dasar hingga SMA, veteran, TNI/Polri, SKPD lingkup pemerintah provinsi Kalimantan Selatan, serta unsur Forkopimda pun, mendengarkan dengan seksama.

Ditemui wartawan usai melakukan tabur bunga di makam Pangeran Antasari, Paman Birin mengaku tidak tahu, kenapa tiba – tiba dirinya terisak saat membacakan pesan tersebut.

“Mungkin karena saya terbayang, bagaimana Pangeran Antasari mengusir penjajah Belanda pada saat itu, dan menyemangati para prajuritnya dengan pesan yang Ia sampaikan. Seperti Haram Manyarah atau haram menyerah pada kekuasaan penjajah,” jelasnya.

Menurut gubernur, pesan Pangeran Antasari kepada para prajuritnya itu, masih dapat diterapkan oleh generasi sekarang. Yakni agar tidak pantang menyerah saat mengerjakan sesuatu, atau mengejar cita-cita.

Sementara itu, buyut tertua Pangeran Antasari Gusti Aminullah, yang sengaja diundang menghadiri acara peringatan ini mengatakan, pihak keluarga sangat berterima kasih kepada pemerintah provinsi Kalimantan Selatan, yang masih memberikan perhatian besar kepada keluarga besar Pangeran Antasari. Diantaranya dengan rutin menggelar peringatan wafatnya sang kakek buyut setiap tahunnya.

Lelaki yang biasa disapa Kai Amin itu mengatakan, dirinya juga terharu bahwa pesan Pangeran Antasari ternyata masih pula diingat saat ini.

“Seiring waktu, setiap orang pasti akan menyadari makna dan nilai, dari pesan yang ditinggalkan Pangeran Antasari untuk Banua ini,” kata lelaki yang tahun ini mencapai usia 81 tahun.

Usai acara peringatan 156 tahun wafatnya Pangeran Antasari dan tabur bunga, pemerintah provinsi melalui Paman Birin memberikan bingkisan dan santunan uang kepada keluarga Pangeran Antasari yang berhadir, termasuk Kai Amin.

Sesuai dengan isi pesannya, Pangeran Antasari diketahui wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda, pada 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang.  Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali di Komplek Pemakaman Pahlawan Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar  Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 23 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan Pangeran Antasari kepada masyarakat di seluruh Indonesia, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) telah mencetak dan mengabadikan nama dan gambar Pangeran Antasari dalam uang kertas nominal Rp 2.000. (RIW/FHF/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.