16 Juni 2021

Tolak VFS Thaseel, Puluhan Travel Umroh Kalsel Datangi Kantor Kemenag

2 min read

Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh dan Haji Khusus Kalsel (depan kopiah putih) saat dimintai keterangan pada Rabu (3/10).

BANJARMASIN – Sekitar pukul 10.00 WITA, kantor wilayah kementrian agama Kalimantan Selatan di kawasan jalan DI Panjaitan Banjarmasin, didatangi puluhan massa berpakaian serba putih, dengan membawa sejumlah spanduk bertuliskan Aksi Damai Jamaah Umroh, dan VFS Thaseel Persulit Para Tamu Allah. Kedatangan mereka pun disambut baik tuan rumah, yang kemudian membawa mereka ke ruang pertemuan di lantai 3. Tak lama berselang, diskusi antara pengusaha travel umroh dan haji plus bersama jamaah umroh dengan pihak kementrian agama pun, berlangsung di ruangan tersebut, disaksikan para jurnalis media cetak, elektronik dan media online. Selama kurang lebih 45 menit diskusi dan penyampaian opini dilakukan, dan akhirnya massa membubarkan diri setelah mengantongi komitmen dari pihak kementrian agama.

Usai pertemuan, kepada wartawan ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Perjalanan Umroh dan Haji Khusus Kalimantan Selatan Saridi Salimin menjelaskan, pengurusan visa umroh melalui Visa Facilitating Services (VFS) Tasheel mulai 24 Oktober mendatang, akan sangat memberatkan calon jamaah. Karena aturan ini dibuat tidak mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia, yang terdiri dari pulau – pulau. Meskipun nantinya akan disediakan satu alat perekam biometrik di setiap ibukota provinsi di Indonesia, namun akan tetap sangat memberatkan calon jamaah umroh yang tinggal di pelosok.
“Misalnya calon jamaah asal Pulau Sembilan Kotabaru, harus melakukan perjalanan ke ibukota hanya untuk melakukan perekaman biometrik demi mendapatkan visa umroh. Perjalanan yang cukup melelahkan, belum termasuk ongkos transportasi yang harus dikeluarkan. Apalagi jika perekaman tidak dapat selesai dalam satu hari, calon jamaah temtunya harus bolak – balik atau bermalam untuk kepentingan ini. Perekaman biometrik pun dikenakan biaya 7-10$ Amerika, di luar biaya yang sudah mereka setorkan kepada Travel,” jelas Saridi.
Selain masalah VFS Thaseel, menurut Saridi, pihaknya juga keberatan dengan penerapan aturan visa progresif. Mengingat biaya progresif yang dikenakan bagi setiap jamaah yang akan berangkat umroh kembali, mencapai hingga 2.000 Riyal.
“Visa progressif yang dikenakan bagi jamaah umroh asal Indonesia ini, adalah yang tertinggi diseluruh dunia. Ini jelas – jelas tindakan pemerasan dari pemerintah Arab Saudi, mengingat jamaah umroh dari Indonesia adalah yang paling besar jumlahnya,” katanya.

Menanggapi hal ini, Zainal Arifin Kasi Pembinaan Haji dan Umroh Kanwil Kementrian Agama Kalimantan Selatan mengatakan, mendukung sepenuhnya penolakan yang datang dari masyarakat ini.
“Apalagi kami juga belum mendapat surat atau pemberitahuan resmi soal pemberlakuan aturan ini. Karena itu kami berjanji segera menyampaikan penolakan teman – teman ini kepada kantor pusat di Jakarta,” jelasnya.
Zainal juga berharap, penerapan aturan ini dapat ditangguhkan, hingga adanya sosialisasi menyeluruh terkait aturan ini kepada seluruh pihak. Baik masyarakat maupun pengusaha travel umroh dan haji khusus, terutama di wilayah Kalimantan Selatan yang memiliki 43 usaha travel. (RIW/FHF/MYB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.