20 Juni 2021

KSOP Banjarmasin Perketat Pengawasan Kelautan

2 min read

Kepala KSOP Banjarmasin (tengah, rompi hitam) didampingi sekdaprov Kalsel (kopiah dan jaket hitam) saat memberikan keterangan kepada wartawan pada Sabtu malam (4/8)

BANJARMASIN – “Insiden serupa tidak boleh lagi terjadi di perairan Kalimantan Selatan. Karena itu kami akan perketat pengawasan. Terutama para pelaut, harus memiliki sertifikat dan bila perlu mengikuti pelatihan lagi. Kami tidak segan melarang kapal berlayar, jika pelautnya tidak memiliki sertifikat,” demikian tegas Bambang Gunawan kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banjarmasin di hadapan wartawan, pada jumpa pers Sabtu malam (4/8) pasca selesainya proses evakuasi 230 penumpang dan awak kapal KM Satya Kencana IX, di terminal kedatangan pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Proses evakuasi berlangsung sekitar 10 jam, pasca KSOP menerima kabar terbakarnya KM Satya Kencana IX di Tanjung Selatan, sekitar 52 mil laut wilayah perairan Kalimantan Selatan.

Bambang mengatakan, selama ini KSOP di seluruh Indonesia sudah memberlakukan aturan ketat, sebelum kapal dinyatakan layak laut. Begitu pula untuk KM Satya Kencana IX, sudah dinyatakan layak laut oleh KSOP Surabaya, sebelum keberangkatannya pada Jum’at petang (3/8) menuju Banjarmasin.

“Penyebab kebakaran masih diselidiki, dan itu sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Kami dan tim penyelamat lebih mendahulukan keselamatan para penumpang dan awak kapal”, tambahnya lagi.

Sementara itu menurut Kepala Basarnas Banjarmasin Mujiono, proses evakuasi berjalan lancar dan hanya memerlukan satu hari saja.

“Sesuai Undang-undang nomor 29 tahun 2014 tentang pelaksanaan evakuasi korban, ada jangka waktu 7 hari untuk penyelamatan tahap pertama. Namun karena seluruh penumpang dan awak kapal dapat diselamatkan dalam kurun waktu 10 jam, maka proses evakuasi korban pun dihentikan”, jelasnya.

Mujiono mengaku sangat bersyukur, insiden kebakaran KM Satya Kencana IX, tidak menyebabkan banyak korban jiwa. Hanya ada satu korban meninggal dunia, atas nama Haji Fauzie usia 55 tahun, asal Bangkalan Madura.

“Keberadaa KM Niki Sae dan KM Kumala yang berangkat hampir bersamaan dengan KM Satya Kencana IX dari Surabaya menuju Banjarmasin, sangat membantu proses penyelamatan. Karena kedua kapal inilah, yang memberikan pertolongan pertama, pasca 3 hingga 4 jam para penumpang berada di sekoci. Sehingga korban jiwa dapat diminimalkan”, terangnya.

Terkait hal ini, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan sangat mengapresiasi koordinasi dan kerja keras tim penyelamat, yang berhasil mengevakuasi para korban dengan cepat.

“Meski begitu, saya mewakili gubernur Kalimantan Selatan Haji Sahbirin Noor, mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban meninggal dunia. Gubernur juga sangat berterima kasih kepada seluruh jajaran Basarnas, KSOP, TNI dan kepolisian serta sukarelawan dan PMI, yang telah dengan sigap melaksanakan operasi penyelamatan”, demikian jelas Abdul Haris Makkie sekdaprov Kalimantan Selatan, yang hadir di terminal kedatangan pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada Sabtu malam (4/8), untuk menyemangati tim penyelamat dan korban insiden, mewakili gubernur Kalimantan Selatan. (RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.