10 Mei 2021

Layanan GeNose C19 Kini Ada di Bandara Syamsuddin Noor

2 min read

Suasana pengambilan sampel GeNose C19 di Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin, di Banjarbaru.

BANJARBARU – Mulai Jumat (23/4). Bandara Internasional Syamsuddin Noor Banjarmasin, di Banjarbaru, resmi memberikan layanan GeNose C19 bagi seluruh calon pengguna moda transportasi udara.

Meski cara kerja dan hasil pemeriksaan GeNose C19 berbeda jauh dengan antigen maupun PCR. Namun, alat ciptaan karya anak bangsa tersebut disinyalir mampu mendeteksi keberadaan wabah COVID-19 lewat sekantong udara yang dihembuskan melalui mulut.

General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor, Amiruddin Florensius mengatakan, meski tidak menggeser keberadaan antigen dan PCR. Namun, posisi GeNose C19 dimaksudkan hanya sebagai alternatif dalam syarat melakukan perjalanan melalui jalur tranportasi udara.

GM Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin, Amiruddin Florensius

“Pada 23 April 2021, kami Angkasa Pura I trial penggunaan GeNose C19 untuk perjalanan udara, tentu perlu diinformasikan bahwa ini bukan satu-satunya pengganti antigen ataupun PCR ya tetapi hanya alternatif untuk melakukan penerbangan,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.

Amiruddin menyebutkan, setidaknya pihak Bandara Internasional Syamsuddin Noor akan menyediakan 300 kantong setiap harinya bagi calon penumpang yang hendak bepergian keluar Kalimantan.

“Kami ingin mengetahui sejauh mana efektivitas dari prosesnya, baik melalui pendaftaran hingga menunggu hasil dari alat ini. Tentunya sama-sama kita menyampaikan kepada masyarakat dan mensosialisasikan keberadaan GeNose C19,” ungkapnya.

Dia menuturkan, untuk biaya layanan penggunaan GeNose C19, calon penumpang bandara hanya dikenakan tarif sebesar Rp40.000.

“Harapannya bisa membantu percepatan traffic jumlah penumpang untuk bisa berangkat,” tuturnya.

Namun, Amiruddin menjelaskan, jangka waktu dari GeNose C19 hanya berlaku 1 x 24 jam saja. Sehingga, untuk kesiapan keberangkatan dalam melakukan perjalanan harus disesuaikan dengan estimasi waktu yang diberlakukan.

“Artinya apa, bisa untuk mengurangi antrian. Bisa juga satu hari sebelum penerbangan, tetapi harus disesuaikan dulu waktu penerbangannya, misalnya mau berangkat besok jam 10, hari ini jam 9 tes GeNose C19 satu jam sebelumnya bisa asal jangan tepat jam 10. Sehingga, belum sempat kadaluwarsa, hal ini dikarenakan sifat prosedurnya 1 x 24 jam tadi,” paparnya.

Ia mengungkapkan, terkait verifikasi perjalanan melalui jalur moda transportasi udara. Bandara Internasional Syamsuddin Noor lebih menyerahkan kepercayaan itu sepenuhnya kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banjarmasin.

 “Itupun kami sudah berkoordinasi dan mengkomunikasikan dengan KKP terkait perjalanan udara,” imbuhnya.

Dirinya menyebutkan lagi, untuk estimasi atau limit yang diberikan 1 x 24 jam dalam melakukan penerbangan menggunakan GeNose C19 sudah sesuai standart.

“Sudah standart ya kepatuhannya, untuk memastikan, kita liat diverifikasi pendataan dari layanan ini, 1 x 24 jam, dari jam 10 hari ini sampai jam 10 besok, 1 jam kemungkinan sudah bisa berangkat,” katanya.

Untuk efesiensi waktu dalam layanan GeNose C19 di Bandara Syamsuddin Noor, diakui Amiruddin, maksimal hanya berkisar antara 9 hingga 3 menit saja, baik dalam proses pendaftaran hingga pengambilan sampel.

“Iya sebenarnya lebih cepat, kami coba trial ya, dari pendaftaran dan seterusnya total 9 menitan, namun, khusus pengambilan sampel sampai tes itu kurang lebih 3 menit saja,” pungkasnya.

Seperti diketahui, cara kerja sistem GeNose C19 bagi calon penumpang di bandara hanya cukup meniupkan nafasnya ke dalam kantong yang disediakan oleh petugas sebagai sampel pengujian. Selanjutnya, hasil pemeriksaan akan teridentifikasi secara otomatis melalui alat ini. (RHS/RDM/RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.