6 Mei 2021

Energi PLTB di Kalsel Jadi Cadangan Listrik Terbesar Kalimantan

3 min read

Ilustrasi : Megaproyek PLTB

BANJARBARU – Industri energi terbarukan khusus Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang bakal dibangun di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dipastikan memiliki total daya kapasitas sebesar 1.400 Mega watt (MW).

Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Kalsel, Sutikno mengatakan terkait Industri Baru Terbarukan (IBT) ini selain telah dilirik oleh sejumlah investor asing dan lokal. Potensi tekanan angin yang menjadi lokasi pembangunan tersebut dari 6 – 8 meter perdetik diprakirakan mampu menghasilkan listrik hingga 800 MW.

“Di Kalsel salah satu potensi ini terletak di Kabupaten Tanah Laut. Bahkan, prospeknya sangat besar, dari tekanan 4 sampai 6 meter perdetik diprakirakan mencapai 600 MW,” ujarnya, belum lama tadi.

Dia menuturkan, apabila total energi terbarukan secara keseluruhan berhasil dibangun. Maka, kincir angin raksasa yang ditujukan sebagai cadangan listrik di pulau Kalimantan itu dipastikan mampu menampung daya kapasitas sebesar 1.400 MW.

“Apabila seluruh pembangunannya terlaksana itu kisaran mencapai 1.400 MW. Padahal, kondisi esesting kita untuk pembangkitan di Kalsel khusus energi batu bara itu sudah mencapai 600 MW,” ungkapnya.

Kabid Energi ESDM Kalsel, Sutikno

Tikno menyampaikan, melalui Perda RUED nomor 1 tahun 2020 tentang rencana energi daerah menyebut bahwa hingga 2050 mendatang tenaga kelistrikan di Kalimantan Selatan mencapai 8,7 Gigawatt (GW).

“Atau sekitar 8.700 MW dan kemungkinan akan lebih besar lagi, dari Perda itu kita dituntut 24,7 persen,” ucapnya.

Dibangunnya energi terbarukan, dirinya mengungkapkan, Kalimantan Selatan dicanangkan menjadi bakal pintu gerbang Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru.

“Karena ini merupakan program Presiden RI, IKN katakanlah yang ramah lingkungan dan kemungkinan tidak ada pembangkitan,” katanya.

Bahkan, Ia menuturkan, seluruh angkutan atau transportasi di pulau Kalimantan rencananya harus menggunakan energi serba ramah lingkungan yakni dengan menggunakan listrik.

“Trem atau kereta listrik seperti jalur Bogor – Jakarta. Dengan angkutan ini otomatis keperluan listrik akan meningkat tajam. Kemudian, kedepan juga memakai mobil bertenaga baterai tapi harganya masih mahal,” paparnya.

Dia menegaskan, kemungkinan Kalimantan Selatan bakal dicanangkan menggunakan mobil tanpa Bahan Bakar Minyak (BBM) lagi.

“Maunya clean emisi gitu kan,” katanya lagi.

Tikno mengutarakan, progres proyek PLTB tersebut telah masuk dalam tahap Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Selesai ini, kemungkinan  pembangunan,” imbuhnya.

Melalui sidang Amdal yang diikuti Dinas ESDM Kalsel, dia mengutarakan, PT Infrastruktur Terbarukan Kesuma (ITK) yang juga sebagai investor dalam pembangunan PLTB itu memerlukan kisaran lahan sekitar 557 hektar.

“Itu di wilayah Kecamatan Batu Ampar, Tanah Laut, dan itu tahap awal dengan membangun 85 MW. Kalau kisarannya ada 10 – 15 tongkat yang diputar oleh tenaga angin,” ungkapnya lagi.

Kemudian lagi, dirinya menyebutkan, PT UPC dari Perancis juga telah melalui tahapan studi kelayanan proyek atau feasibility Study (FS) yang dilaksanakan di Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

“Bahkan mereka sudah membangun tongkat pantau atau setara KUPL tapi mereka sudah FS untuk ditindaklanjuti dan setelah FS tinggal Amdal. Ini merupakan tahap awal dalam membangun 65 MW atau 65 juta watt lampu yang nantinya akan di sambungkan (on grade) ke PT PLN,” tuturnya.

Sutikno kembali menyampaikan, untuk energi Industri Baru Terbarukan (IBT) di Kalimantan Selatan dari 800 Mega watt (MW) saat ini diprakiraan telah mencapai 12 persen atau dengan total sebesar 100 Mega watt (MW).

“Kalsel itu selebihnya disambungkan ke PLN atau untuk kepentingan sendiri mencapai 100 MW,” ucapnya lagi.

Selanjutnya, perusahaan yang siap melakukan investasi untuk pembangunan PLTB di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan adalah PT Tanah Laut Energi dan PT Renewable Energy.

“Rencanakan akan dibangun di wilayah Jorong, Tanah Laut, dan berpotensi menghasilkan 70 MW. Bahkan, sebelumnya, Sandiaga Onu yang kini merupakan Menparekraf RI juga tertarik untuk berinvestasi energi terbarukan ini,” pungkasnya. (RHS/RDM/APR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.