7 Mei 2021

Hiswana Migas Kalsel : Kerusakan Infrastruktur Penyebab Langka dan Naiknya Gas Melon

2 min read

Ketua Hiswana Migas Kalimantan Selatan Saibani, memakai baju kaos hitam, didampingi Sekretaris Hiswana Migas Kalsel, Muhammad Irfani

BANJARMASIN – Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kalimantan Selatan mengakui, pasca banjir pada pertengahan Januari 2021 lalu, kerusakan infrastruktur menjadi kendala utama, dalam pendistribusian tabung gas elpiji 3 kilogram.

Ketua Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kalimantan Selatan (Kalsel), Saibani, kepada wartawan pada Sabtu (20/2) mengatakan, kondisi Infrastruktur baik jalan dan jembatan, yang mengalami kerusakan pasca banjir, menjadi faktor utama penyebab langka dan naiknya gas elpiji 3 kilogram, karena distribusinya mengalami keterlambatan.

“Kami minta pihak terkait sesegeranya memperbaiki, selama infrastruktur lambat ditangani, dikhawatirkan akan terus terjadi kekurangan suplai ke masyarakat,” ucapnya.

Saibani menjelaskan, saat ini kerusakan akses Jalan Gubernur Syarkawi yang menjadi jalur distribusi dari Depo LPG Pertamina, yaitu berada di Kabupaten Barito Kuala ke beberapa Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut. Bahkan Pertamina dan Hiswana Migas telah memantau ke lapangan namun ternyata kondisi jalan hampir tidak bisa dilalui oleh mobil, sehingga kalau dipaksakan melintasinya akan sangat berbahaya, yakni mobil akan terbalik dan terjadi hal yang tidak diinginkan, sehingga pihak terkait harus cepat menyelesaikan infrastruktur yang menjadi akses utama.

“Kita akui saat ini tabung gas elpiji 3 kilogram tidak ada kelangkaan, bahkan mampu bertahan hingga 8 hari ke depan, namun kami memohon maaf kepada warga atas keterlambatan ini,” katanya.

Sementara itu Sekretaris Hiswana Migas Kalsel, Muhammad Irfani mengimbau, khususnya di Kota Banjarmasin, pihak Kecamatan, Lurah dan Ketua RT, berperan aktif dalam memberi pengawasan di lapangan terutama saat penyaluran gas elpiji 3 kilogram, agar tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Peranan semua pihak sangat penting, agar permasalahan ini cepat selesai,” tutupnya.

Untuk diketahui, munculnya persoalan langka dan mahalnya tabung melon mulai terjadi dalam kurun waktu beberapa hari ini, tidak hanya di Kota Banjarmasin, Banjarbaru namun hingga ke Kabupaten Banjar, untuk harganya bervariasi dari sekitar empat puluh ribu rupiah hingga mencapai enam puluh ribu rupiah. (NHF/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.