20 Juni 2021

Gas Elpiji 3 Kg Tembus Harga 60.000

3 min read

Ilustrasi : kelangkaan gas elpiji 3 kg

BANJARBARU – Kelangkaan gas melon di Kota Banjarbaru kembali jadi keluhan para warga. Pasalnya, harga eceran yang didapatkan mereka ternyata berhasil menembus angka dikisaran Rp50.000 – Rp60.000 pertabungnya.

Seperti yang dialami warga Kelurahan Kemuning, Kota Banjarbaru, Adi. Menurutnya, sejak terjadinya bencana banjir, kelangkaan gas melon atau 3 kg mulai dirasakan. Bahkan, saking sulitnya, Ia terpaksa harus bekeliling puluhan kilo untuk bisa mendapatkan barang tersebut.

“Di seputaran Banjarbaru memang sempat kosong. Keliling-keliling, hingga akhirnya saya menemukan di salah satu warung di wilayah jalan Guntung Paikat,” ujarnya kepada Abdi Persada FM, melalui sambungan telepon, Jumat (19/2) siang.

Diceritakannya, setelah menemukan sebuah kios yang menjajakan gas melon di kawasan Kelurahan Guntung Paikat, Banjarbaru. Dirinya pun terkejut setelah mendengar harga jual gas itu sekitar Rp50.000.

“Saya terkejut, bahwa harga satu tabungnya itu Rp50.000, meski sempat stabil karena ada Operasi Pasar (OP). Akan tetapi, belum sampai seminggu naik lagi. Bahkan, pernah mendapatkan harga Rp60.000 untuk satu gas 3 kg dari pengecer,” cetusnya.

Dirinya berharap pemerintah segera bisa mengatasi permasalahan kelangkaan ini. Agar warga tidak harus lagi repot dan kebingungan untuk bisa mendapat gas elpiji 3 kg yang disubsidikan khusus bagi masyarakat miskin.

“Saya juga menemukan kalau ada gas 3 kg dikeluarkan lagi setelah barang tersebut habis. Kami meminta lah agar ada penindakan. Selain itu, ada solusi bagi kami warga yang masih membutuhkan gas melon ini sehingga tidak kebingungan lagi mencarinya,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan warga Kelurahan Guntung Manggis, Kota Banjarbaru, Hasan. Dirinya mengaku bahwa akhir-akhir ini, gas elpiji 3 kg sudah mulai sulit dicari. Bahkan, sering mendapatkan harga yang bervariasi, mulai berkisar dari Rp50.000 – Rp60.000.

“Padahal Harga Eceran Tertinggi kan Rp17.500, ini ada harganya Rp50.000 sampai Rp60.000. Bingung saya dengan kenaikan secara mendadak ini, bahkan, ini kebutuhan vital sekali bagi keluarga kami,” paparnya.

Menyikapi itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Banjarbaru, Anshori menjelaskan, kelangkaan yang terjadi diakibatkan adanya infrastruktur jalan yang rusak. Sehingga, pendistribusiannya pun terpaksa harus mengalami keterlambatan.

“Perlu diketahui, kenapa gas elpiji 3 kg ini naik, karena efek dari kurang lancarnya pendistribusian, salah satunya adalah rusaknya infrastruktur jalan di KM. 17 Sungai Tabuk (Banjar) Margasari (Tapin) dan lanjut ke banua enam (hulu sungai). Sedangkan, KMj. 55 yang ada jembatannya itu belum bisa dilewati oleh truk bermuatan lebih dari 10 ton. Sehingga, efeknya dari Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru dan Banjarmasin mengalami dampak kenaikan,” tuturnya.

Namun, dirinya mengungkapkan, Pemko Banjarbaru telah berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk melaksanakan kembali Operasi Pasar (OP). Hal ini dilakukan, sebagai langkah dalam mengatasi permasalahan kelangkaan gas elpiji 3 kg.

“Solusinya adalah kami di Pemko Banjarbaru sudah melakukan koordinasi dengan seluruh kelurahan dan kecamatan untuk melakukan Operasi Pasar (OP) dan wilayah yang sudah melaksanakan, sebut saja, Landasan Ulin Tengah, Landasan Ulin Utara, Loktabat Utara, Sei Besar, Sungai Ulin dan Sungai Tiung,” bebernya.

Selain itu, Unit Manager Communication, Relation and Corporate Sosial Responbility (CSR) PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VI Kalimantan, Susanto August Satria melalui staffnya, Abe menuturkan, untuk lingkup secara pengawasan pihaknya hanya sampai agen dan pangkalan saja. Sedangkan pengecer, bukan tanggungjawab resmi dari perusahaan.

“Untuk pengecer bukan lembaga penyalur resmi Pertamina, jadi kalau ada agen atau pangkalan yang memang wewenang kami boleh diinfokan ke kami,” katanya.

Kendati demikian, Ia menegaskan apabila ditemukannya agen maupun pangkalan yang ketahuan ‘bermain’ curang. secara tegas, akan dilakukan penindakan.

“Jadi, konsumen yang membeli ke pangkalan itu wajib melampirkan KTP dan Kartu Keluarga (KK). Untuk konsumsi rumah tangga maksimal 1 tabung, sedangkan untuk pelaku UMKM maksimal 2 tabung,” katanya lagi. (RHS/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.