NewsProvinsi Kalsel

UPTD PPA Kalsel Berhasil Ungkap Kasus KDRT di Batola

BANJARBARU – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Selatan berhasil mengungkap satu kasus tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Meskipun proses tersebut harus berujung ke tingkat penyidik dan perceraian.

Kepala UPTD PPA Kalsel, Riko Ijami mengungkapkan kendati kasus tersebut berasal dari Kabupaten Barito Kuala (Batola). Namun, untuk pendampingan korban selaku dibawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) pihaknya telah menjalankan tupoksi sesuai yang diberikan.

Kepala UPTD PPA Kalsel, Riko Ijami (kanan) saat memberikan pendampingan psikologis pada korban.

“Meskipun kasus ini merupakan rujukan dari Batola. Untuk penanganan, kemarin korban KDRT nya sudah kami dampingi baik sampai ke proses hukum maupun sidang perceraian,” ungkapnya kepada Abdi Persada FM, melalui sambungan telepon, Selasa (16/2) siang.

Ia menyebutkan, dalam kasus yang jadi perkara ini akan tetap dikembalikan ke tingkat kabupaten. Bahkan, selain menggelar proses perceraian, pelaku juga telah ditangani oleh penyidik dari kepolisian.

“Kemudian, perihal kejadian ini untuk pendampingan selanjutnya akan diserahkan ke tingkat kabupaten, yakni khusus proses perceraian ada di Pengadilan Agama Negeri di Batola. Akan tetapi, khusus pendampingan serta perlindungan hingga hukum itu Pemprov melalui UPTD PPA Kalsel,” ujarnya.

Dirinya membeberkan, untuk pendampingan yang diberikan oleh UPTD PPA Kalimantan Selatan khusus kepada korban adalah pemulihan psikologis.

“Untuk pelaku sudah diamankan oleh aparat kepolisian dan korban telah kami bantu melakukan pemulihan psikologisnya,” paparnya.

Diceritakannya, dari tragedi yang terjadi itu mengakibatkan fisik hingga psikologis korban terganggu. Selain mengalami luka-luka cukup serius, ternyata korban sempat dirawat di rumah sakit (RS).

“Kasus KDRT yang di Batola itu, korban mengalami luka-luka dan menjurus ke kekerasan fisik dan sempat dirawat rumah sakit,” ucapnya.

Hingga kini, dirinya memaparkan untuk proses mediasi sudah tidak bisa lagi dilakukan. Sebab, proses hukum dari kepolisian telah berjalan.

“Seharusnya dilakukan mediasi, akan tetapi, karena pelaku sudah dilaporkan ke pihak kepolisian dan telah diamankan maka proses ini tidak bisa lagi dilakukan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, selain pelaku telah masuk dalam tahap penyelidikan kepolisian. Ternyata, proses perceraian juga sudah diajukan oleh korban ke Pengadilan Agam Negeri Kabupaten Batola. Oleh sebab itu, negosiasi atau kesepakatan untuk berdamai tidak bisa dilakukan.

“Tak hanya itu, korban juga telah mengajukan proses perceraian ini ke Pengadilan Agama di Batola. Bahkan, perbuatan pelaku juga masuk dalam kekerasan fisik hingga mengakibatkan psikologisnya terganggu,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kasus yang terjadi ini merupakan tragedi di 2021 pada Februari ini. Dimana, kejadian tersebut menjadi catatan khusus bagi pihak UPTD PPA Kalimantan Selatan dalam memberikan layana sesuai tupoksi yang diberikan. (RHS/RDM/RHD)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat