6 Mei 2021

Pasar di Tapin Dibagi Dua, Omset Pendapatan Pedagang Turun

2 min read

Pasar Rantau zaman dulu.

BANJARBARU – Terbaginya dua lokasi pasar di wilayah Kabupaten Tapin, membuat sejumlah pedagang harus mengalami penurunan omzet pendapatan.

Meski dinilai strategis, akan tetapi jarak yang ditempuh di salah satu pasar di Kecamatan Tapin Utara masih banyak jadi dikeluhkan.

Hal tersebut diketahui setelah melalui hasil seminar akhir ‘Pengaruh Pasar Modern Terhadap Pasar Tradisional di Kalimantan Selatan’ oleh tim peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kalimantan Selatan.

Peneliti Muda Bidang Ekonomi dan Pembangunan Balitbangda Kalsel, Siska Fitriyanti, mengatakan, meski beberapa retail telah banyak berdiri di wilayah Kabupaten Tapin. Namun, ternyata hal tersebut tidak berpengaruh besar untuk dua pasar tradisional yang ada sebelumnya.

Peneliti Muda Bidang Ekonomi dan Pembangunan Balitangda Kalsel, Siska Fitriyanti.

“Dari hasil penelitian memang penurunan omzet pendapatan mencapai sekitar 34 persen meski tidak 50 persen, namun bagi pedagang itu cukup besar kerugian yang didapatkan. Dalam hal ini, artinya kita tidak bisa menyimpulkan bahwa pasar tradisional menggeser pasar tradisional di wilayah tersebut,” ujar ketua tim peneliti ‘Pengaruh Pasar Modern Terhadap Pasar Tradisional di Kalimantan Selatan’, Siska di ruang peneliti Balitbangda Kalsel, beberapa waktu lalu.

Dari hasil kajian, dirinya mengungkapkan, penjualan yang mengalami dampak penurunan omzet pendapatan setelah dipisahkan menjadi dua pasar, yaitu disektor kebutuhan pokok seperti sembako dan pakaian.

“Rata-rata tadi sebesar 34 persen, dan sudah berlaku pada sembako dan pakaian,” ungkapnya.

Selain lokasi dan jarak tempuh, Siska memaparkan, untuk regulasi baik Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hingga penataan pengelolaan secara umum sepenuhnya telah dimiliki oleh kabupaten/kota di provinsi Kalimantan Selatan. Namun, sayangnya belum mencapai 70 persen.

“Hampir di kabupaten/kota memiliki tata kelola pasar modern hingga tata kelola pasar tradisional, akan tetapi, penegakan implementasinya masih belum 70 persen,” bebernya.

Sementara itu, warga Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, Tini mengakui, bahwa setelah terbaginya menjadi dua pasar, beberapa rekannya yang juga berdagang di lokasi berbeda memang mengalami penurunan omzet pendapatan dibandingkan pasar terdahulunya. Mengingat, sejumlah konsumen atau pembeli juga lebih familiar dengan pasar yang sebelumnya.

“Pas masih pasar jadi satu, pendapatan memang meningkat. Namun, setelah dipisah banyak pedagang juga keluhkan omzet pendapatan, bukan karena sulit ditemukan, tetapi lokasi jarak tempuh cukup jauh, apalagi kamu yang tinggal di Kecamatan Lokpaikat,” tuturnya.

Terkait itu, Ia membeberkan, bahwa pasar yang berada di tengah pusat ibu kota kabupaten Tapin dan perkantoran Pemerintah itu sebelumnya menjadi primadona bagi pedagang dan pembeli. Akan tetapi, dikarenakan adanya pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan tersebut, maka, realisasi penataan pasar dibagi menjadi dua.

“Makanya pendapatan juga mengalami penurunan, bahkan yang berdampak disana yakni penjualan pakaian dan makanan juga tidak terlalu seperti pasar yang ada dipusat kota dulu,” pungkasnya. (RHS/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.