NewsProvinsi Kalsel

Triwulan III Tahun 2020, Nilai Ekspor Kalsel Menunjukkan Kenaikan

BANJARBARU – Nilai ekspor Kalimantan Selatan (Kalsel) mengalami peningkatan, setelah sebelumnya mengalami penurunan selama pandemi COVID-19. Hal ini terungkap pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, pada awal Desember 2020 tentang nilai ekspor dan impor selama Oktober 2020.

Dalam rilis itu disampaikan, nilai ekspor di Kalsel mengalami peningkatan, sementara nilai impor justru turun.

Berdasarkan data tersebut, nilai ekspor Kalsel pada Oktober 2020 tercatat USD352,63 juta. Naik 7,34 persen dibandingkan September 2020, yang hanya USD328,52 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami penurunan sebesar 15,59 persen. Dari USD39,75 juta menjadi USD33,56 juta.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud menyampaikan, nilai ekspor Kalsel meningkat lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor, yakni bahan bakar mineral mengalami kenaikan.

“Kelompok ini nilai ekspornya naik 10,47 persen. Yakni, dari USD 234,29 juta pada bulan September menjadi USD 258,66 juta di bulan Oktober,” paparnya melalui laman YouTube¬† BPS Kalsel.

Disampaikan Moh Edy, kelompok bahan bakar mineral cukup memengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar yakni 73,35 persen.

“Di urutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang menyumbangkan ekspor USD42,66 juta. Kontribusinya 12,10 persen,” sebutnya.

Terkait negara tujuan ekspor, Edy mengungkapkan, pada periode Oktober barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke China dengan nilai USD74,09 juta.

“Nilai ekspor ke China ini mengalami kenaikan 29,33 persen dibandingkan September 2020,” ungkapnya.

Selain China, tercatat ekspor Kalsel ke Jepang pada Oktober juga relatif tinggi yakni sebesar USD 44,65 juta.

“India berada di urutan ketiga dengan nilai ekspor sebesar USD 44,43 juta, disusul Pakistan USD 34,72 juta dan Malaysia USD32,58 juta,” terangnya.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan Oktober. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD25,59 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD7,03 juta dan kelompok bahan kimia organik sebesar USD0,26 juta.

“Kontribusi dari masing-masing tiga kelompok ini kalau diurut adalah 76,26 persen, 20,94 persen dan 0,78 persen dari total impor Oktober 2020,” ucapnya.

Mengenai impor menurut negara asal, dia merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD25,29 juta. Diikuti Malaysia, USD6,36 juta dan Tiongkok, USD1,02 juta.

“Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 75,35 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya. (ASC/RIW/RHD)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat