NewsProvinsi Kalsel

Pasar Modern dan Online Picu Penurunan Omzet Kosmetik dan Pakaian

BANJARBARU – Turunnya tren pendapatan atau omzet hingga 34 persen disektor kosmetik dan pakaian di Kalimantan Selatan, ternyata dipicu akibat keberadaan pasar modern dan online yang kini mulai diminati oleh sejumlah kalangan.

Bahkan, hal tersebut baru diketahui usai terselenggarannya hasil seminar akhir penelitian dengan mengusung sub kajian ‘Pengaruh Perkembangan Pasar Modern Terhadap Pasar Tradisional’, belum lama tadi.

Peneliti Muda Bidang Ekonomi danĀ  Pembangunan Balitbangda Kalsel sekaligus ketua tim peneliti, Siska Fitrianyanti mengatakan, dari 96 persen responden kosmetik menyatakan lonjakan penurunan yang dialami oleh mereka rata-rata diangka 34 persen sejak hadirnya pasar modern di Kalimantan Selatan.

Peneliti Muda Bidang Ekonomi dan Pembangunan Balitbangda Kalsel, Siska Fitriyanti.

“Kalau persaingan antara pasar online, menyasarnya lebih ke kosmetik dan pakaian yang mengalami dampak penurunan. Namun, untuk pangan segar meskipun anggap kota besar seperti Banjarmasin misalnya memiliki mall, retail dan supermarket hingga kini pasar tradisional belum bisa tergantikan,” ujarnya kepada Abdi Persada FM, usai mengikuti kegiatan secara virtual terkait sektor Ekonomi dan Pembangunan, di ruangan khusus peneliti Balitbangda Kalsel, Kamis (3/12) siang.

Selain juga dipicu oleh keberadaan pasar modern, dia menyebut bahwa penurunan daya beli masyarakat terhadap kosmetik dan pakaian dengan mendagangkan secara sistem manual di pasar tradisional itu salah satu pengaruh besarnya adalah intensitas bisnis industri pasar online mulai banyak diminati. Sehingga, pangsa pasarnya pun ikut terkikis.

“Meski tidak diangka 50 persen, namun penurunan dipresentase 34, menurut pedagang cukup besar untuk total kerugian yang diterimanya,” ungkap Siska.

Bahkan, dengan hadirnya pasar modern dan online, Ia menuturkan, pandemi COVID-19 juga menjadi pemicu lainnya. Dimana, dari hasil penelitian, salah satu sampel dari distribution Store (Distro) di Kabupaten Kotabaru yang terkenal menjajakan usaha pakaian itu harus berakhir kalah dengan keadaan dan berunjung menutup usahanya.

“Dari 7 pegawainya harus di PHK dan hasilnya harus gulung tikar, sehingga dipastikan harus ada inovasi agar jualannnya tidak terdampak,” tuturnya.

Bahkan menyangkut regulasi, Siska mengatakan, hampir setiap kabupaten/kota telah mempunyai sistem aturan tersebut. Akan tetapi, tata kelola pasar modern dan tradisional khusus untuk penegakan implementasinya masih dibawah maksimal yakni berkisar diangka 74 persen.

“Terutama dimasalah dalam pengaturan jarak, antara pasar tradisional dengan modern. Kemudian, beberapa kabupaten/kota sudah mempunyai peraturan yang bagus, dimana setiap kecamatan bolehnya sekian titik. Namun, ternyata pas kami melihat di lapangan masih berbeda dibandingkan yang dibolehkan perda, pergub atau perwali,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perekonomian dan Pembangunan Balitbangda Kalsel, Kemas A. Rudi Indrajaya, menyampaikan, melihat adanya kemorosatan bisnis dalam menghadapi pasar modern ditengah pandemi COVID-19, dirinya pun memaparkan, langkah atau solusi yang dapat dijalankan bahkan tetap bisa menikmati bisnis usaha kecilnya yaitu dengan memanfaatkan industri berbasis digital.

Kabid Ekonomi dan Pembangunan Balitbangda Kalsel, Kemas A. Rudi Indrajaya.

“Sekarang ada kios atau gerai yang berjualannya manual tapi produknya juga dijual dengan sistem online dan bahkan harganya pun tetap sama. Maka dari itu, pedagang saatnya harus melek dengan industri digital dan patut dikuasai,” jelasnya. (RHS/RDM/RHD)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat