7 Mei 2021

Perkawinan Usia Muda Pengaruhi Angka Kemiskinan

2 min read

Peneliti Kepakaran Ekonomi Regional Balitbangda Kalsel, Hery Pradana.

BANJARBARU – Pengaruh perkawinan usia muda ternyata memiliki dampak besar terhadap sejumlah sektor baik melalui pendidikan hingga peluang pekerjaan. Bahkan, hal tersebut mampu memicu tingkat angka kemiskinan khususnya di wilayah Kalimantan Selatan.

Terkait hal itu, Peneliti Kepakaran Ekonomi Regional Balitbangda Kalsel, Hery Pradana, mengatakan, meskipun kajian pernikahan usia muda tidak dilaksanakan lagi. Namun, dikarenakan masuk dalam sub bagian variabel Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) maka hal ini juga akan menjadi analisis pihaknya kedepan.

“Karena kategorinya masuk di IPP maka analisisnya pun akan ditambahkan,” ujarnya kepada Abdi Persada FM di ruang kerjanya, baru-baru tadi.

Hasil penelitian tahun 2017 – 2019 terkait presentase pernikahan usia muda.

Dikatakan berdampak dengan sektor lainnya, dia menyebut, melalui pendidikan, usia muda cukup rentan dengan pengaruh tersebut, tercatat melalui hasil data presentase penduduk berumur 10 tahun yang pernah kawin berdasarkan umur perkawinan pertama, dari 2017 angka di Kalsel mencapai 22,33 persen, 2018 naik sebanyak 22,77 persen hingga 2019 turun menjadi 22,15 persen untuk kategori dibawah 16 tahun.

“Cuman kan kita melihat dari hasil presentase ada umur 16 – 18 tahun ini relatif muda, dan yang belum tercatat pasti masih sangat banyak lagi jumlahnya, serta delimatis sekali datanya. Bahkan, sulit didapatkan,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, ada dua kategori pendekatan yang telah dilakukan, salah satunya, dilaporkan (tercatat) dan kedua nikah siri. Akan tetapi, sesuai undang-undang bahwa umur 19 tahun diperbolehkan menikah.

“Apabila kita berkaca berarti yang usia muda ini kebanyakan adalah SMP dan SMA yang masuk dalam ranah tersebut,” ungkapnya

Oleh sebabnya, Hery mengungkapkan, dari jabaran baik angka presensetase, hingga acuan umur pernikahan menjadi alasan utama terkait pemicu angka kemiskinan. Dimana, usia dibawah 16 tahun menjadi salah satu pemicu adanya dampak kemiskinan.

“Karena dia menikah diusia SMP atau SMA dan pasti tidak bisa lanjut sekolah, cari sistem lain bisa tapi belum bisa dimaksimalkan secara sempurna, akhirnya hanya berkutat disitu saja. Sehingga, mata pencaharian ekonominya disektor pertanian saja, sedangkan lahan finansialnya terus menurun setiap tahunnya hingga akhirnya kemisikinan itu terus berputar disana,” paparnya.

Disamping itu, Ia membeberkan dari sisi beban ketergantungan di Kalimantan Selatan mencapai angka sekitar 47,7 persen, bahkan, secara presentase tersebut hampir menyamai skala Nasional.

“Setiap 100 orang penduduk itu memiliki beban ketergantungan 48 orang, jadi kalau diasumsikan ada 3 orang dalam satu keluarga 1 yang ditanggung dan itu cukup tinggi. Dengan kondisi seperti ini, si anak dengan usia 16 – 18 tahun diharuskan menikah berarti secara tidak langsung harus putus sekolah,” bebernya.

Dikatannya lagi, secara otomatis untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari sisi pendidikan pun menurun, hingga berimbas pada tingkat peluang untuk sektoral pekerjaan juga mengalami kesulitan bahkan masuk dalam kategori sulit.

“Mereka yang putus sekolah dan hanya berakhir lulusan SMP tidak memiliki potensi besar dalam mengisi pekerjaan disektoral formal, namun hanya melengkapi lintas informal saja, seperti berdagang, bertani dan pendapatannya pun tidak begitu besar serta masih pluktuatif. Apabila, terakumulasi secara terus meneruskan akan berdampak pada kemiskinan,” pungkasnya. (RHS/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.