7 Mei 2021

Gelar Rapat Evaluasi di Banjarmasin, Penanganan Karhutla 2020 Dinilai Berhasil

2 min read

Para peserta rapat evaluasi penanganan karthutla tahun 2020 berfoto bersama usai acara.

BANJARMASIN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi persoalan tahunan yang harus dihadapi Indonesia pada musim kemarau. Terutama disejumlah provinsi yang terkategori rawan karhutla. Seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan provinsi Kalimantan Selatan. Untungnya, cuaca di Indonesia tahun ini dipengaruhi iklim La Nina. Dimana curah hujan jauh lebih tinggi, hampir merata di seluruh Indonesia. Dampak dari iklim La Nina ini, membuat musim kemarau berlangsung lebih pendek dan ancaman kebakaran hutan dan lahan pun menjadi berkurang.

Dampak iklim La Nina ini, menjadi salah satu topik yang dibahas pada rapat evaluasi karhutla tahun 2020, yang digelar kementrian koordinator politik hukum dan HAM (Kemenko Polhukam) di Banjarmasin baru – baru ini. Hadir pada acara ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BMKG, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bareskrim Polri, serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah – BPBD provinsi, Kodam, Korem, Polda, dan juga Manggala Agni dari sejumlah provinsi rawan karhutla di Indonesia.

Usai rapat evaluasi, plt direktur dukungan infrastruktur darurat BNPB, Budhi Erwanto menjelaskan, bahwa penanganan karhutla tahun ini terbilang cukup berhasil. Selain karena faktor pengaruh iklim, kondisi ini juga didukung kesolidan satgas karhutla di daerah, yang selalu sigap menangani karhutla.

“Kedepannya, saya berharap kerjasama dan koordinasi yang sudah terjalin dengan cukup baik ini, dapat terus ditingkatkan. Terutama menghadapi ancaman karhutla tahun 2021 mendatang, dimana tantangan juga datang dari keterbatasan anggaran, yang masih akan difokuskan pada penanganan COVID 19. Oleh karena itu, pertemuan kali ini tidak hanya sebatas evaluasi penanganan karhutla tahun 2020, tetapi juga kesiapan penanganan tahun depan,” jelasnya di hadapan wartawan.

Sementara itu, menurut direktur pengendalian kebakaran hutan dan lahan kementrian lingkungan hidup dan kehutanan RI, R Basar Manullang mengatakan, keberhasilan penanganan karhutla tahun ini, dapat dilihat dari luasan lahan dan hutan yang terbakar tahun ini, turun drastis dibanding tahun lalu.  Jika tahun lalu luasan yang terbakar mencapai 1 juta hektar lebih, maka tahun ini turun menjadi 276.000 hektar.

“Turunnya mencapai sekitar 80 persen dibanding tahun lalu. Penurunan jumlah luasan karhutla itu terjadi,  terutama di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Sedangkan di beberapa daerah,  justru terjadi peningkatan jumlah luasan. Sebut saja contohnya di provinsi Nusa Tenggara Timur, dimana masyarakatnya memiliki tradisi turun temurun membakat lahan, untuk membuka lahan pertanian. Namun karhutla di provinsi ini dapat dengan mudah dipadamkan, tidak seperti di Kalimantan dan Sumatera dengan jenis lahan gambut,  yang dapat menyimpan panas di bawah tanah,” paparnya.

Khusus untuk penanganan karhutla tahun 2021 mendatang, Bareskrim Polri akan mendistribusikan unit olah tempat kejadian perkara (TKP) karthutla ke 17 Polda di Indonesia. Unit olah TKP ini meliputi satu unit mobil, dan motor yang dilengkapi kit olah TKP, dan juga telepon satelit untuk memudahkan komunikasi di daerah black spot, serta drone untuk mendokumentasikan luasan TKP dari udara secara akurat. (RIW/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.