NewsProvinsi Kalsel

Prediksi Ledakan Kasus Pasca Lebaran, Pemprov Kalsel Siapkan 500 Kantong Mayat

BANJARBARU – Slogan #Indonesiaterserah kini menjadi tren dimana-mana. Munculnya slogan itu bukan tanpa alasan, mengacu pada tingkah polah masyarakat yang seakan tidak peduli dengan kondisi pandemi COVID 19 saat ini. Mereka tetap ‘ngeyel’ belanja keperluan lebaran tanpa memedulikan aturan jaga jarak, dan bahkan rela berdesak-desakan demi membeli baju lebaran. Padahal di rumah sakit, para tenaga kesehatan berjibaku menolong ribuan nyawa yang terancam virus mematikan, tanpa memedulikan dirinya sendiri. Sehingga mereka pun akhirnya kewalahan, bahkan sampai ada yang meninggal dunia karena tertular COVID 19 dari pasien yang ditanganinya.

Namun di tengah kondisi ini, pemerintah provinsi Kalimantan Selatan masih memiliki asa untuk dapat mengatasi persoalan ini, setidaknya mengurangi angka kematian akibat virus asal Wuhan China tersebut. Sebab menurut Wakil Ketua gugus tugas (Gugas) percepatan penanganan COVID 19 Kalimantan Selatan Hanif Faisol Nurofiq, jika saat ini pihaknya berupaya menekan laju pertumbuhan kasus, sudah sangat terlambat. Karena penularan virus saat ini sudah sangat masif di masyarakat, menyusul dengan munculnya klaster-klaster baru penularan lokal. Contohnya klaster Sentra Antasari.

“Saya tidak ingin mendramatisasi, tapi beginilah keadaannya. Kita sudah sangat terlambat jika ingin menekan angka penyebaran. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menekan angka kematian akibat virus ini, khususnya di kalangan lansia dengan sejumlah penyakit penyerta seperti diabetes melitus. Karena itu, saat ini kita sudah memesan 500 kantong mayat, dan masing-masing 100 peti mati untuk Rumah Sakit Ulin dan Anshari Saleh. Selain itu, kita juga siapkan eksavator di lokasi pemakaman khusus COVID, seandainya diperlukan,” papar Hanif kepada wartawan, usai memimpin rapat koordinasi dengan tim KIE lingkup pemerintah provinsi Kalsel baru-baru tadi di Banjarbaru.

Hanif menambahkan, saat ini kapasitas rumah sakit rujukan COVID 19 di Kalimantan Selatan, khususnya yang berada di kota Banjarmasin sudah dipenuhi oleh pasien. Bahkan dalam seharinya, 10 sampai 15 pasien masuk di RSUD Muhammad Anshari Saleh, dan juga RSUD Ulin Banjarmasin. Seluruh ruangan isolasi yang ada di 2 rumah sakit itu, saat ini dapat dikatakan penuh.

“Oleh karena itu kita sudah meminta tambahan bed di Ulin hingga 500 unit, dan diharapkan dalam pekan ini sudah tersedia. Sementara di Anshari Saleh kita minta peningkatan hingga 110 tempat tidur. Begitu juga di rumah sakit milik pemko Banjarmasin Sultan Suriansyah, sebanyak 100 bed. Kita juga meminta tambahan tempat tidur di Bhayangkara hingga 100 bed, dan mengupayakan agar rumah sakit ini menjadi rumah sakit pelayanan COVID 19. Khusus di daerah ada Rumah Sakit Haji Boeyasin Pelaihari dan Hasan Basri Kandangan, juga sudah kita mintakan tambahan bed, dan akan disiapkan dalam pekan ini,” urainya.

Tindakan pemerintah provinsi ini bukan tanpa alasan. Karena diprediksi ledakan kasus COVID 19 di Kalimantan Selatan akan terjadi pasca lebaran ini. Hal itu mengacu pada sikap masyarakat yang masih acuh dengan aturan jaga jarak, ditambah dengan tindakan mereka yang masih melakukan silaturahmi berkunjung ke rumah tetangga ataupun melakukan Sholat Ied secara berjamaah. Saat ini saja, jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID 19 sudah mencapai angka 548 kasus, dengan 77 dinyatakan sembuh dan 56 meninggal dunia. Dimana kasus terbanyak terdapat di kota Banjarmasin dengan 205 kasus, disusul Tanah Bumbu dengan 111 kasus dan Batola dengan 53 kasus. (RIW/RDM/RHD)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat