BanjarbaruNews

Hand Sanitizer Langka, SMKN 1 Banjarbaru Membuat Sendiri

BANJARBARU – Tingginya kekhawatiran masyarakat dengan merebaknya virus Corona (Covid-19) di beberapa daerah di Indonesia, juga turut dirasakan oleh masyarakat di Kalimantan Selatan. Padahal saat ini Kalimantan Selatan masih dalam status siaga, karena belum ada pasien yang dinyatakan positif terserang virus ini.

Kekhawatiran tersebut membuat terjadinya aksi borong alat kesehatan standar seperti masker dan hand sanitizer, hingga membuat banyak masyarakat yang kebingungan dan semakin khawatir terhadap penyebaran virus ini.

Tidak mau turut larut dalam kebingungan dan kekhawatiran, pihak sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) 1 Banjarbaru, menghadirkan inovasi dengan membuat hand sanitizer sendiri.

“Ide ini tercetus karena melihat virus ini sudah menjadi pandemi nasional bahkan dunia lah,” ujar Agus Riadi, sang pembuat hand sanitizer, yang juga guru desain grafis di sekolah ini, Jum’at (20/3).

Kepada Abdi Persada FM, Agus menjelaskan, dirinya bersama Hafil yang merupakan guru di jurusan keselamatan kerja perhotelan, bersama-sama memanfaatkan bahan baku berupa ethanol, yang sudah lama tidak terpakai hasil dari bantuan pemerintah di tahun 2005 yang lalu.

“Kami tidak memiliki jurusan kimia, jadi tidak terpakai, namun tetap tersimpan dengan baik,” terangnya.

Ethanol dengan kadar 96 persen alkohol tersebut, dijelaskan Agus, mereka campurkan dengan pelembab kosmetik sebagai aromaterapi, sifat ethanol sendiri dijelaskannya, cepat menguap dan sebagai pembunuh kuman maka cocok untuk digunakan sebagai bahan baku hand sanitizer ini.

Adapun penyediaan hand sanitizer ini dijelaskan Agus, merupakan instruksi dari kementerian pendidikan dan dinas pendidikan Kalimantan, sebagai fasilitas siswa dalam menghadapi ujian, di tengah berkembangnya virus corona ini.

“Hand sanitizer di pasaran kan kosong, kalau ada pun mahal, sedangkan keperluan mendesak untuk anak-anak ujian,” ujarnya.

Diakui Agus, untuk membuat hand sanitizer tidak begitu sulit, karena sudah mengetahui formulanya, dari yang ia pelajari di media sosial maupun konsultasi dengan istrinya yang bekerja di bidang kesehatan. Kesulitan malah ia alami ketika mencari botol, karena botol hand sanitizer juga mengalami kekosongan di pasaran.

“Terpaksa kami gunakan botol parfum, tentu lebih cair dari hand sanitizer biasa, karena yang kami gunakan botol parfum semprot,” tukasnya.

Hasil dari membuat 1 (satu) liter hand sanitizer dan di bagi menjadi 20 botol kecil ini, pihak sekolah mampu memberikan kenyamanan bagiĀ  280 orang siswanya yang melaksanakan ujian, dari tanggal 16 – 19 Maret 2020 kemarin. (ASC/RDM/RHD)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat