19 Oktober 2021

BI Dorong Industri Wisata Halal di Kalsel

2 min read

Kepala KPw Bank Indonesia Kalsel saat memberikan keterangan kepada wartawan pada Rabu (12/02)

BANJARMASIN – Indonesia diketahui merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Tentunya kondisi ini, akan sangat mendukung negara ini menjadi tujuan wisata halal (halal tourism) terbesar pula di dunia. Namun sayangnya, wisata halal Indonesia, justru kalah dengan negara tetangga Malaysia. Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) meyebutkan, pada tahun 2018 kunjungan turis halal ke Indonesia hanya 3 juta orang. Kalah jauh dibanding Malaysia, yang berhasil mendatangkan 6 juta turis muslim. Potensi inilah yang harus terus dikembangkan oleh industri pariwisata di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan. Diantara 34 provinsi di Indonesia,  masyarakat Kalimantan Selatan dapat dikategorikan religius. Hal ini dilihat dari banyaknya rumah ibadah berupa masjid dan mushola, dihampir semua sudut wilayah Kalimantan Selatan. Selain itu, sejak dulu Kalimantan Selatan juga dikenal banyak memiliki ulama-ulama berpengaruh, yang hingga saat ini, makam mereka rutin diziarahi masyarakat lokal, nasional hingga internasional.

“Contohnya yang sebentar lagi akan digelar pada akhir Februari ini. Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura. Diperkirakan jumlah jemaah yang datang mencapai 2 juta orang lebih, baik yang berasal dari sini, bahkan negara tetangga. Ini sebuah potensi wisata religi dan wisata halal, yang dapat mendatangkan devisa bagi Kalimantan Selatan,” jelas kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan Amanlison Sembiring kepada wartawan, usai menggelar temu wartawan dikantornya jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin, pada Rabu siang (12/02).

Lebih lanjut Amanlison mengatakan, dengan banyaknya jemaah yang datang, maka akan banyak pula aktivitas mereka yang dapat mendorong industri wisata halal disekitarnya. Seperti makanan halal, serta busana halal.

“Jepang saat ini juga gencar mendorong industri wisata halal. Sampai souvenir khas mereka, diberikan logo halal. Begitu juga Thailand dan Australia, mereka juga sudah mulai merambah wisata halal ini, dengan memberikan cap halal di daging serta produk makanannya. Untuk apa semua ini dilakukan, tentunya untuk menjaring wisatawan yang berasal dari negara muslim. Potensi ini yang harus dikembangkan Kalimantan Selatan, apalagi di sini banyak makam-makam ulama besar, seperti Muhammad Arsyad Al Banjari atau biasa disebut Datu Kelampayan. Tiap tahun banyak pengunjung makam ini, termasuk dari luar negeri. Apalagi jika berasal dari Timur Tengah, tentu akan memberikan devisa besar untuk Kalimantan Selatan. Bahkan saya dapat informasi, di negara Jiran kita Malaysia, ada sekitar 2 juta keturunan Banjar yang masih rutin berkunjung ke sini,” paparnya.

Provinsi Kalimantan Selatan, saat ini memang mulai membenahi sektor pariwisatanya, salah satunya adalah wisata religi. Mengingat sektor pertambangan batubara yang selama ini menjadi tumpuan perekonomian, mulai mengalami penurunan seiring dengan semakin berkurangnya ketersediaan batubara di alam. Dengan kata lain, sumber daya alam tak terbarukan ini, dapat saja habis sewaktu-waktu. Sementara sektor pariwisata, adalah sumber terbarukan yang dapat terus berinovasi sesuai kondisi zaman. Sejumlah langkah pembenahan sektor parisiwata ini, juga dilaksanakan pada subsektor wisata religi. Salah satunya dengan merenovasi kawasan komplek makam Datu Kelampayan, dan juga menambah infrastruktur jalan menuju kawasan wisata religi andalan di Kalimantan Selatan. (RIW/RDM/RHD)

1 thought on “BI Dorong Industri Wisata Halal di Kalsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?