19 Oktober 2021

Berita Hoax, Filter Terampuh Ada Dalam Diri

2 min read

Dialog Persada, Kamis (30/1) dengan tema "Tangkal isu hoax dengan media".

BANJARBARU – Keresahan mengenai banyaknya berita tidak benar atau hoax yang menyebar di masyarakat saat ini, serta bagaimana cara menangkal berita yang sering muncul di media sosial ini, menjadi topik utama dalam dialog di radio Abdi Persada FM, edisi Kamis (30/1).

Melalui Frekuensi 104,7 FM, dialog yang bertajuk dialog Persada, dengan tema “Tangkal Isu Hoax Dengan Media” ini, dipandu oleh Halimah Abdul Halim sebagai Host dan Endah Sari sebagai Co Host.

Dialog yang berdurasi selama satu jam ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Kepala bidang E-government Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalsel, Bahrom Majie, serta Koordinator Pegiat Jaringan Literasi Digital Kalsel, Sri Astuty.

Dikatakan Sri Astuty, jaringan pegiat literasi digital ini bergerak memberikan motivasi dan pencerahan kepada masyarakat, agar melek terhadap media digital saat ini.

“Kami merupakan bagian jaringan kegiatan literasi digital nasional, yang sudah ada sejak tahun 2017 yang lalu,” jelasnya.

Dijelaskan Astuty, pihaknya juga sering memberikan motivasi kepada masyarakat, untuk melakukan cek fakta dalam membedakan antara berita hoax dan berita benar, baik berupa video, gambar maupun pemberitaan.

“Ada beberapa tingkatan literasi digital dimulai dari mengakses, kemudian menyeleksi, memverifikasi, dan memproduksi, dan untuk di Kalimantan Selatan tingkat literasi digital masih dalam tahap mengakses,” ujarnya.

“Jadi kalau cuma mengakses, apapun berita yang diterima, tidak terlalu melakukan verifikasi bahkan kadang-kadang turut menyebarkan, sehingga tugas kami adalah memberikan pencerahan kepada masyarakat,” tambahnya lagi.

Dijelaskan Astuty, hoax bukan hanya berita bohong, tetapi juga merupakan tindakan menyebar informasi yang salah, kemudian di rekayasa menjadi sesuatu yang benar dan bisa diterima oleh masyarakat.

Berdasarkan kajian yang dilakukan pihaknya, usia 25 hingga 40 tahun keatas, merupakan usia yang masih banyak terpapar hoax.

Sementara itu, Kepala bidang E-government Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalsel, Bahrom Majie mengatakan, berita hoax merupakan sesuatu yang sulit dilakukan analisa karena harus menggunakan berbagai aspek. Terlebih dengan banyaknya penduduk Indonesia yang menggunakan internet, yang capaiannya sekitar 132,7 juta dari total penduduk sebanyak 256,2 juta orang, membuat peluang untuk menyalahgunakan teknologi dalam arti membuat berita hoax sangat besar sekali.

“Padahal di UU ITE sudah jelas mengatur mengenai berita bohong, seperti pada pasal 28 dijelaskan, setiap orang yang membuat berita bohong baik gambar dll, akan berhadapan dengan UU ITE, namun masyarakat masih banyak yang belum mengetahui,” terangnya.

Dikatakan Bahroom, berdasarkan data yang ada, sebanyak 92,4 persen berita hoax di sebarkan melalui media sosial, kemudian aplikasi chat berada diurutan kedua dengan besaran 62,8 persen, situs website sebanyak 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio sebanyak 1,2 persen.

“Hampir di semua media ditemukan berita bohong, sehingga hendaknya berita-berita yang diterima dan kemudian disebarkan, diverifikasi masing-masing terlebih dahulu,” jelasnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan masyarakat ketika menemukan berita menurut Bahrom, adalah dengan melakukan verifikasi atau perbandingan dengan media-media mainstream atau yang terdaftar.

Sehingga informasi yang diterima dan kemudian ingin disebarkan dapat dipertanggung jawabkan.

“Gunakanlah internet secara bijak, karena filter paling ampuh dalam pemberitaan adalah diri sendiri,” pungkasnya. (ASC/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?