28 November 2021

Nelayan Masih Takut Melaut, Pasokan Ikan Menipis

2 min read

ilustrasi suasana di Pelabuhan Perikanan

BANJARMASIN – Ada lauk apa bu? Tanya seorang pembeli di sebuah warung makan pinggir jalan. “Itu aja mba, telur sama ayam. Acil (sebutan khas untuk ibu pedagang dalam bahasa Banjar) nggak berani beli ikan, mahal! Takut ngga bisa jual ke mba-nya.”

Perbincangan semacam ini, kerap kali terdengar pada awal tahun 2020 ini, di sejumlah warung makan pinggir jalan di Banjarmasin. Tingginya harga ikan laut maupun tawar saat ini di pasar, membuat para pedagang modal kecil ini, harus memutar otak agar tetap dapat berjualan dan menyajikan menu menarik, namun tetap dengan harga pas di kantong. Dengan adanya kondisi semacam ini, maka mau tidak mau, mereka terpaksa mencoret lauk ikan dalam menu mereka.

“Mahal, acil tidak berani beli. Nila saja seekornya sudah di atas 30 ribu harganya. Apalagi ikan laut. Sudah barangnya terbatas, itupun harganya mahal. Bagaimana acil mau menjualnya. Masa dipotong kecil-kecil. Kalau dipaksakan, harga harus dinaikkan, acil takut nggak ada yang beli. Jadi sudahlah, untuk sementara tidak ada lauk ikan dulu,” urai salah seorang pedagang warung makan pinggir jalan di Banjarmasin, Kamsiah kepada Abdi Persada baru-baru ini.

Pengakuan Kamsiah ini, didukung pula keterangan Kepala Pelabuhan Perikanan Banjarmasin Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Selatan, Rusdi Hartono kepada wartawan, Senin (13/1).

Saat ditemui di tempat kerjanya, Rusdi menjelaskan, bahwa saat ini hanya ada satu kapal saja yang merapat di pelabuhan perikanan Banjarmasin. Padahal dalam kondisi normal, jumlah kapal yang bongkar muat di pelabuhan ini dapat mencapai 10 unit.

“Nelayan masih takut melaut, mereka beralasan saat ini di perairan bisa saja terjadi cuaca ekstrim sewaktu-waktu, meskipun prakiraan BMKG menyebutkan bahwa ketinggian gelombang di kisaran 1,5 meter saja. Kemampuan nelayan kita untuk ketinggian gelombang segitu, masih mampu lah. Tapi itu tadi, kondisi cuaca yang tidak menentu di perairan lah yang menjadi penyebabnya,” jelasnya.

Rusdi menambahkan, dibanding kondisi pekan lalu, maka perairan pada pekan ini jauh lebih bersahabat. Pekan lalu, ketinggian gelombang dapat mencapai 3 hingga 4 meter. Tentu saja sangat membahayakan bagi para nelayan.

“Saya berharap, dalam satu atau dua hari ini, kapal-kapal nelayan akan segera bongkar muat di sini, sehingga pasokan ikan pun dapat kembali normal. Tidak seperti saat ini, hukum pasar berlaku. Pasokan yang minim, menyebabkan harga ikan menjadi mahal,” tutupnya. (RIW/RDM/RHD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?