BanjarmasinNewsProvinsi Kalsel

Pecinta Alam Se Indonesia Kumpul di Meratus, Ini Yang Mereka Lakukan

BANJARMASIN – Bagaimana jika ratusan pecinta alam kumpul di satu tempat? Ramai dan membawa aura penuh petualangan. Itulah yang terasa di auditorium Mastur Jahri Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin pada Senin (21/10). Sebanyak 360 pecinta alam dari 170 perguruan tinggi negeri di 34 provinsi Indonesia berkumpul, untuk mengikuti Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) XXXI tahun 2019. Dimana tahun ini tema yang diangkat adalah Gerakan Nasional Pecinta Alam Dalam Menyelamatkan Sumber Daya Alam Terakhir #SaveMeratus. Dan sesuai dengan tema besarnya Selamatkan Meratus, maka seluruh kegiatan TWKM yang berlangsung dari 21 – 26 Oktober 2019 tersebut, dipusatkan di kawasan Meratus yang tersebar disejumlah kabupaten. Mulai kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.

Menurut ketua panitia TWKM XXXI Kalimantan Selatan Muhammad Ariffin, setidaknya ada sejumlah kegiatan yang akan dilakukan seluruh peserta dari  Mapala (mahasiswa pecinta alam) dari 170 perguruan tinggi negeri dan swasta se Indonesia tersebut, di kawasan Meratus. Mulai dari panjat tebing, camping dan susur gua hingga pendakian.

“Untuk panjat tebing dilakukan di tebing Batu Laki kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kemudian camping dan susur gua di Hulu Sungai Tengah, tepatnya di gua desa Nateh. Selain itu di kabupaten ini juga dilakukan pendakian, yakni puncak gunung Halau-Halau. Acara lainnya adalah temu wicara dan sekaligus penutupan acara di Kiram Park kabupaten Banjar,” jelas mahasiswa pecinta alam dari UIN Antasari tersebut kepada wartawan, saat ditemui pada pembukaan TWKM XXXI Senin (21/10).

Selain melakukan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan alam, TWKM tahun ini di Kalsel juga menargetkan dapat mendeklarasikan penyelamatan Meratus, dari aktivitas pertambangan batubara.

“Kita ketahui bersama, bahwa kawasan pegunungan Meratus saat ini sudah dalam kondisi mengkhawatirkan. Satu-satunya yang masih alami dan belum terjamah pertambangan batubara, adalah Meratus di kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kita akan mendeklarasikan penolakan pertambangan batubara di Meratus HST tersebut. Deklarasi yang ditandatangi seluruh peserta TWKM ini, akan direkomendasikan ke kementrian lingkungan hidup dan juga kementrian ESDM. Tujuannya cuma satu, agar izin pertambangan batubara di Meratus HST ini, dapat dicabut,” harapnya.

Pembukaan TWKM XXXI di auditorium Mastur Jahri pada Senin (21/10), diawali dengan pembacaan puisi bertema Save Meratus. Kemudian dilanjutkan tarian dari sanggar Bahana Antasari, yang membawakan tarian dari sejumlah daerah di Indonesia dalam satu kemasan, yang ditutup penampilan Faraz and Friend yang memadukan musik Panting dengan musik elektronik. Penampilan mereka yang membawakan sejumlah lagu Banjar ini, disambut meriah dan antusias para peserta yang telah lama menunggu dimulainya acara. (RIW/RDM/RRF)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat