15 April 2021

Paman Yani Inginkan Pembangunan Jembatan Pulau Laut Segera Terealisasi

2 min read

Anggota DPRD Kalsel, M. Yani Helmi.

BANJARMASIN – Gaung pembangunan jembatan Pulau Laut di Kalsel mulai meredup setelah gagal masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Tak ada kepastian dari Pemerintah Pusat terkait kucuran dana pembangunan bentang tengah jembatan sepanjang 6,5 kilometer tersebut membuat proyek mercusuar ini terkesan mati suri. Namun belakangan wakil rakyat di Rumah Banjar kembali ingin memperjuangkan realisasi pembangunan agar mimpi warga banua bisa terwujud. Diantaranya menuntut keterlibatan pihak swasta yang beroperasi di Kalsel agar proyek besar ini bisa dikeroyok untuk meringankan beban APBD Provinsi maupun Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru seperti PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) Grup yang mendapatkan konsesi pertambangan di Pulau Laut untuk memberikan kompensasi pendanaan sharing pembangunan jembatan yang menghubungkan Kotabaru dan Tanah Bumbu itu yang pernah dijanjikan sebelumnya.

Anggota DPRD Kalsel Dapil Tanbu – Kotabaru, Muhammad Yani Helmi mengatakan mengingat kebutuhan yang mendesak jalur penghubung dua kabupaten ini harus segera diwujudkan.

“Alasannya akses selama ini yang hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi penyeberangan sudah tak efektif dan efesien lagi karena masyarakat harus menunggu antrian berjam-jam untuk bisa menyeberangi selat batulicin tersebut,” jelasnya.

Wakil rakyat yang akrab disapa Paman Yani ini optimis dengan keterlibatan swasta, maka proyek jembatan Pulau Laut yang sudah berjalan pembangunannya menggunakan dana APBD ini bisa rampung dalam waktu segera. Namun pihaknya tetap mengawal komitmen Pemprov untuk melakukan lobi ke Pemerintah Pusat agar dana APBN juga bisa digelontorkan sehingga penyelesaian pembangunan lebih cepat.

Paman Yani menambahkan jika jembatan ini terealisasi akan berdampak positif bagi perkembangan ekonomi di kawasan tersebut karena bisa membuka akses jalur darat yang dinilai lebih efektif dan efesien.

“Akses melalui jalur perairan yang selama ini umum digunakan, selain lebih terbatas juga biaya operasional lebih mahal,” pungkasnya. (NRH/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.