BanjarbaruNewsProvinsi Kalsel

Tunjang Ketahanan Pangan Banua, Petani Dibekali Pemahaman Iklim

BANJARBARU – Untuk meningkatkan pemahaman informasi iklim, sebagai penunjang ketahanan pangan banua, BMKG stasiun klimatologi Banjarbaru menggelar sekolah lapang iklim, sosialisasi agroklimat provinsi Kalimantan Selatan, Rabu (4/9), di salah satu hotel di Banjarbaru.

Pentingnya para petani mengetahui mengenai iklim ini, dijelaskan deputi bidang klimatologi BMKG, Herizal, karena kegiatan pertanian adalah kegiatan yang berhubungan dengan alam, sehingga petani harus bisa menyesuaikan dengan perubahan alam baik cuaca maupun iklim dalam melakukan cocok tanam.

“Ada tiga komponen dalam kegiatan pertanian, yaitu bibit, tanah, dan iklim atau cuaca. Nah, ketika bibit dan tanah sekarang bisa dikendalikan dengan teknologi, iklim tidak bisa, sehingga yang kita lakukan adalah menyesuaikan dengan cuaca dan iklim saja, dan untuk bisa menyesuaikan harus mengetahui cuaca dan iklim”, jelas Herizal kepada Abdi Persada FM.

Herizal juga mengatakan, sebagai penyedia informasi, BMKG berusaha dapat memberikan informasi yang akurat, bagus dan tepat, maka pihaknya mengundang para kelompok tani agar bisa sama-sama mengetahui hal ini.

“Kami undang masyarakat melalui para penyuluh pertanian, nanti mereka yang memberikan informasi kepada masyarakat khususnya petani di lapangan,” ujarnya.

“Penyuluhan ini rutin kami berikan, karena dampak perubahan iklim ini semakin tahun semakin sering, sehingga pengetahuan ini harus terus di perbarui,” tambahnya lagi.

Selain itu Herizal juga berharap, melalui kegiatan ini para petani dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan ketahanan pangan di Kalimantan Selatan.

“Yang penting mereka paham dulu, soal peningkatan produksi memang fluktuasi, kalau di lahan irigasi tidak terlalu signifikan, tetapi di lahan tadah hujan, bisa meningkat sampai 36 persen,” terangnya.

Sementara itu, ketua pelaksana sekolah lapang iklim, Enu Bahtiar mengatakan, kegiatan ini diikuti sebanyak 25 peserta, yang terdiri dari penyuluh pertanian sebanyak 19 orang, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman sebanyak 3 orang, penyuluh kehutanan 1 orang, dan kelompok tani perwakilan dari Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 2 orang. (ASC/RDM/RRF)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat