13 April 2021

Harga Cabai Tinggi di Kalsel, Diprediksi Hingga Oktober

2 min read

Cabai rawit yang dipasarkan di Kalsel.

BANJARMASIN – Cabai, tak dipungkiri menjadi salah satu komoditas bahan pokok yang paling digemari di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan. Selain sebagai bahan utama pembuatan sambal, cabai juga sering dijadikan sebagai bumbu pelengkap pada beragam makanan khas Indonesia. Sehingga wajar jika harganya di pasaran sangat berfluktuasi, sesuai dengan tingkat permintaan dan stok yang tersedia. Kondisi itulah yang kini tengah dihadapi hampir sebagian besar wilayah di Indonesia, dimana harga cabai tengah mengalami kenaikan, akibat minimnya pasokan cabai. Termasuk di wilayah provinsi Kalimantan Selatan, yang kenaikan harganya mencapai 70 – 80 ribu rupiah per kilogram.

Menurut kepala dinas perdagangan Kalimantan Selatan Birhasani, naiknya harga cabai ini sudah terjadi sejak setelah perayaan hari raya Idul Fitri hingga saat ini. Bahkan diprediksi, tingginya harga ini akan berlangsung hingga Oktober nanti.

“Memang kondisi cuaca sangat mempengaruhi pasokan cabai kita. Setelah Idul Fitri lalu, sejumlah kawasan penghasil cabai masih diguyur hujan, bahkan ada yang mengalami banjir. Kemudian berlanjut dengan musim kemarau sampai saat ini. Sedangkan cabai termasuk tanaman yang sangat rentan dengan kondisi cuaca. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan pasokan cabai menipis,” jelasnya.

Lebih lanjut Birhasani mengatakan, minimnya pasokan cabai ini dirasakan di seluruh wilayah Indonesia, tidak hanya di Kalsel saja. Sehingga setiap daerah penghasil mengeluarkan kebijakan, untuk mementingkan kebutuhan lokal dibanding mengirimkan atau menjual ke luar daerah.

“Kebutuhan cabai Kalsel saat ini, mayoritas didatangkan dari kabupaten Tapin, dan hanya sedikit yang berasal dari luar daerah atau provinsi. Terutama untuk jenis cabai Hitung, dengan tingkat kepedasan luar biasa. Namun karena kondisi cuaca, sehingga pasokan lokal pun menjadi terbatas dan memengaruhi harga pasar. Kita berharap pada Oktober musim hujan sudah mulai terjadi di wilayah Kalsel, sehingga petani dapat mulai melakukan tanam,” tambahnya.

Sementara untuk bahan kebutuhan pokok lainnya, diklaim Birhasani dalam kondisi stabil dan terkendali. Termasuk untuk komoditas bawang merah, yang pasokannya sempat terganggu insiden tenggelamnya kapal pengangkut bawang dari Bima ke Kalsel, di perairan Kaltim akhir Juli lalu. Bahkan dipastikan stok di tingkat distributor dan pedagang melimpah. (RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.