BanjarmasinNews

Ekstrakulikuler di Sekolah Mengarah ke Ajaran Radikalisme?

Generasi Muda, Kini Kurang Mencintai Budaya Daerah Indonesia

BANJARMASIN – Tantangan pemuda pada era globalisasi ini cukup berat. Dimana, ancaman dari segala penjuru akibat keterbukaan informasi dan teknologi digital menyerang pemuda Indonesia. Baik dari budaya, bahasa, moral, dan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan dari semua pihak, untuk menanamkan kecintaan kebangsaan terhadap para pemuda tersebut. Hal ini disampaikan Kepala Bakesbangpol Provinsi Kalimantan Selatan Adi Santoso, pada saat menjadi narasumber  pada program TKHI (Topik Kita Hari Ini) Radio Abdi Persada FM, edisi Kamis (15/8).

Adi menceritakan saat pihaknya melakukan kegiatan roadshow ke sekolah-sekolah, untuk mensosialisasikan peningkatan nilai nilai kebangsaan dikalangan pelajar.

“Kami menemukan, adanya fakta di lapangan, ada seorang pelajar yang tidak mau hormat bendera,” ungkap Adi.

Ternyata, lanjut Adi, pelajar tersebut mendapatkan masukan paham radikal pada kegiatan ektrakulikuler di sekolahnya.

“Oleh karena itulah, guru dan orangtua siswa diminta untuk turut serta melakukan pengawasan terhadap kegiatan ektrakulikuler yang diikuti oleh anak-anak mereka,” ucap Adi.

Adi mengatakan, jangan sampai generasi muda khususnya dari kalangan pelajar terpengaruh dari ajaran radikalisme tersebut.

Sementara itu, Psikolog RSUD Ulin Banjarmasin Gusti Erawati mengatakan, saat ini pihaknya menemukan penurunan nilai kecintaan terhadap budaya dikalangan generasi muda saat ini.

“Penurunan kecintaan terhadap budaya daerah di Indonesia ini, dikarenakan era globalisasi atau keterbukaan. Sehingga, dengan mudahnya budaya asing masuk ke Indonesia,” ungkap Gusti.

Gusti mencontohkan, nilai budaya yang mulai kurang yakni, apabila anak-anak ditanya mengenai nama nama pahlawan mereka tidak mengetahuinya, tetapi begitu ditanya artis Korea anak-anak ini hapal semuanya.

“Begitu juga dengan bahasa daerah, saat ini banyak generasi muda tidak bisa berbahasa daerahnya sendiri,” ucap Gusti.

Tentunya, lanjut Gusti, diperlukan peranan semua pihak untuk menanamkan rasa kebangsaan Indonesia yang kuat, pada diri pemuda pemuda Indonesia saat ini.

“Jangan sampai terjadi pemuda Indonesia tidak mencintai budayanya sendiri,” pungkas Gusti. (SRI/RDM/EYN)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Close
Close
Close
WhatsApp chat