5 Maret 2021

Bank Indonesia Panen Raya Padi Lokal di Banjarbaru

2 min read

walikota Banjarbaru (tengah mengangkat padi) saat melakukan panen raya padi lokal Rabu (31/7).

BANJARBARU – Padi lokal masih menjadi komoditas utama di Kalimantan Selatan. Kondisi itu tidak terlepas dari preferensi masyarakat Kalsel terhadap beras lokal. Untuk memenuhi keperluan tersebut, maka sejumlah daerah di Kalsel mengembangkan sentra-sentra padi lokal, termasuk kota Banjarbaru.

Pada Rabu (31/7), kota Banjarbaru melakukan panen raya, yang dipimpin langsung Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani bersama jajarannya, serta didampingi Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Kalsel Herawanto.

Lahan padi lokal yang di panen tersebut, merupakan lahan tadah hujan yang sudah digarap turun temurun, dengan tingkat keasaman yang sangat cocok untuk tanam padi secara berkesinambungan.

Hamparan tanam dengan perkiraan seluas 700 hektar ini mendapat pengairan secara teratur, dan mampu menghasilkan 7 hingga 8 ton beras lokal varietas unus siam (rukut-mayang Bangkal). Jika dipupuk secara teratur, hasil panen dapat mencapai angka 10 ton, sesuai dengan pengalaman petani dari tanam sebelumnya.

Teknik panen yang dilakukan pada, sebagian masih menggunakan tanam konvensional, sebagian lainnya sudah menggunakan teknik tanam jajar legowo yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan.

“Ini merupakan pembuktian bahwa kota Banjarbaru memiliki potensi pertanian. Panen raya swadaya di Lahan Kelompok Tani Sejahtera kelurahan Bangkal kecamatan Cempaka Kota ini, erat kaitannya dengan penyediaan kecukupan komoditas pangan utama khas Kalsel, yakni beras lokal. Kami berharap pihak-pihak lain dapat turut bersinergi untuk dapat secara bersama-sama mengembangkan pertanian di Kalsel, khususnya kota Banjarbaru untuk ketahanan pangan mandiri,” papar walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani.

Hal yang sama disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel Herawanto. Ia menyampaikan bahwa, panen ini merupakan salah satu kinerja baik dari kota Banjarbaru dalam melakukan adressing kepada tingkat inflasi Kalsel, utamanya sumbangsih inflasi dari Volatile Food yang disebabkan oleh komoditas beras. dalam hal ini adalah beras lokal.

“Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan pertanian di Kalsel, salah satunya dengan turut mengajak instansi terkait dan petani dari Kota Banjarbaru untuk turut serta dalam pelatihan inovasi tanam, dan pengolahan limbah untuk pertanian, di RPL Bumi Tangi yang dikelola oleh Bank Indonesia,” jelas Herawanto.

Kedepannya, replikasi metode tanam dari satu tempat potensial, ke tempat lain juga menjadi faktor penting yang dapat ditempuh agar hasil padi lokal dari sentra-sentra lain di Kalsel dapat mencapai jumlah panen maksimal. Selain itu, penegasan pentingnya pengendalian inflasi komoditas strategis juga secara aktif dilakukan dalam kegiatan dimaksud. (HUMASBI/RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.