21 Oktober 2021

Kekeringan di Kalsel Masih Kondusif

2 min read

BANJARBARU – Musim kemarau yang berakibat pada kekeringan di sebagian wilayah Kalimantan Selatan, hingga saat ini masih belum di anggap terlalu mengkhawatirkan. Hal ini terungkap melalui siaran Abdi Persada 104,7 FM, dalam program topik kita hari ini (TKHI) edisi Kamis (25/7) pagi, dengan tema “Kemarau Menyapa, Kekeringan Melanda”.

Saat menjadi Narasumber dalam program TKHI ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Ikhlas Indar mengatakan, berdasarkan pantauan yang ada, kekeringan di wilayah Kalimantan Selatan ini, masih dalam tahap yang aman, tidak seperti yang terjadi di pulau Jawa.

“Inikan rutinitas musim, alamiah, dari pantauan juga masih tidak terlalu parah, masih aman lah,” ujarnya.

Namun melalui perspektif dinas lingkungan hidup, lanjut Ikhlas, terjadinya kekeringan di musim kemarau ini tentu berpengaruh terhadap kualitas air khususnya air sungai, dan ini tentu juga berdampak pada kesehatan.

“Yang menjadi perhatian dalam kondisi kekeringan ini adalah meningkatnya bakteri E-coli (Escherichia coli) hingga berpuluh-puluh kali lipat, dan ini tentu berdampak pada kesehatan seperti gangguan pada pencernaan. Hasil ini kita dapat melalui pengecekan terhadap kualitas air sungai, yang dilakukan secara rutin sebanyak 6 kali dalam setahun, baik yang ada di sungai Martapura, sungai Barito, sungai Negara, dan sungai lainnya di 13 kabupaten kota,” tambahnya

Ikhlas menghimbau kepada masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang masih mengkonsumsi air sungai, untuk setidaknya mengurangi pemanfaatan air sungai ini untuk dikonsumsi, atau lebih baik lagi jika bisa menghindari sama sekali.

Sementara itu dari perusahaan daerah air minum (PDAM) Intan Banjar, selaku operator air minum di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan, yang juga menjadi narasumber dalam program TKHI ini menjelaskan, hingga saat ini masih belum menemui kendala yang berarti di awal musim kemarau ini.

Disampaikan kepala bagian perencanaan PDAM Intan Banjar, Mahmud Mansyur, hingga saat ini belum mendapatkan laporan terkait kekeringan, baik dari pelanggan maupun non pelanggan, namun diakuinya, masih ada beberapa wilayah yang memang belum mendapatkan pelayanan secara optimal, sehingga pihaknya sudah mempersiapkan program sebagai antisipasi kekeringan dampak dari musim kemarau ini.

“Ada beberapa wilayah yang masih belum optimal, kami sudah siapkan program untuk penambahan pompa air baku di Sungai Tabuk,” terangnya.

Dijelaskan Mahmud, yang sering menjadi masalah di musim kemarau ini dari sisi kuantitas air, karena salah sumber air baku PDAM ini berasal dari Sungai Martapura, maka ketika terjadi pendangkalan maka pendistribusian bisa terganggu.

“Kualitas aman, sistem berjalan dengan baik, namun kuantitas yang jadi masalah, karena air sungai pasang surut, dan ini berdampak pada terhentinya secara total pendistribusian air, namun paling lama sekitar 4 jam saja,” paparnya. (ASC/RDM/EYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?