15 April 2021

Soal Pemindahan Ibukota Negara, Ini Tanggapan Paman Birin

2 min read

Gubernur Kalsel saat memberikan keterangan pada wartawan Selasa (30/04).

BANJARMASIN – Resmi sudah. Pada rapat kabinet terbatas Senin (29/4) lalu, Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan untuk memindahkan ibukota negara ke wilayah di luar pulau Jawa. Keputusan itu diambil, setelah presiden dihadapkan pada sejumlah opsi yang ditawarkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro.

Opsi pertama yaitu Ibukota tetap berada di Jakarta, lalu daerah di sekitar Istana Negara dan Monas dibuat khusus untuk kantor-kantor pemerintahan, kementerian dan lembaga. Hal itu bertujuan agar seluruh kawasan pemerintahan berada di satu tempat, sehingga tercipta efisiensi dalam koordinasi pemerintah. Opsi kedua, pusat pemerintahan dipindah ke luar Jakarta, namun masih dalam radius sekitar 50 – 70 kilometer dari Jakarta. Sedangkan opsi ketiga adalah memindahkan Ibukota ke luar pulau Jawa khususnya di kawasan timur Indonesia. Dan presiden Joko Widodo pun memutuskan untuk memilih opsi ketiga tersebut.

Penegasan presiden soal rencana kepindahan ibukota negara ini, tentunya membawa angin segar bagi provinsi Kalimantan Selatan, yang sudah mengajukan diri sebagai kandidat ibukota baru, saat rencana pemindahan masih berupa wacana dan dalam tahapan pengkajian oleh Bappenas.

Menanggapi keputusanĀ  presiden ini, Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor, awalnya hanya tersenyum saat dikonfirmasi wartawan pada sebuah acara Selasa sore (30/4) di salah satu gedung pertemuan kawasan Belitung Banjarmasin. “Serahkan semua pada Yang Maha Kuasa. Semua hal di dunia ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa,” begitu kalimat yang terlontar dari gubernur saat ditanya tanggapannya terkait kepindahan ibukota negara ke wilayah di luar pulau Jawa.

Namun saat ditanya apakah optimis, Kalimantan Selatan akan terpilih menjadi pengganti ibukota negara, gubernur pun memberikan jawabannya dengan tegas.

“Optimis. Dalam hidup ini kita harus optimis. Sebab kalau kita tidak optimis, tidak akan ada semangat untuk melakukan pembangunan, untuk bergerak. Bergerak untuk kemakmuran rakyat,” tegasnya.

Meski terkesan tidak mau memberikan tanggapan soal rencana kepindahan ibukota negara tersebut, namun dalam beberapa kali kesempatan, Paman Birin (sapaan khas gubernur) selalu meyakini bahwa Kalimantan Selatan adalah kandidat terbaik sebagai ibukota negara. Hal iniĀ  dilihat dari sisi letaknya yang sangat strategis, berada tepat di tengah-tengah Indonesia, sehingga mudah dijangkau dari wilayah manapun di Indonesia. Selain itu, Kalimantan Selatan juga relatif aman dari ancaman bencana alam besar. Seperti gempa bumi, gunung meletus serta tsunami.

Sebelum rencana pemindahan ibukota ini mencuat, sebelumnya Indonesia pada awal kemerdekaannya pernah mengalami pemindahan ibukota beberapa kali. Pemindahan pertama pada 4 Januari 1946, atas usulan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII kepada Presiden Soekarno. Yakni memindahkan ibukota ke Yogyakarta. Mengingat, Jakarta sudah jatuh ke tangan militer Belanda sejak 29 September 1945.

Yogyakarta juga bernasib sama dengan Jakarta. Agresi militer II menyebabkan Yogyakarta diambil alih oleh Belanda. Presiden Soekarno pun segera memindahkan ibukota ke Bukittinggi pada 19 Desember 1948. Kota ketiga yang sempat menjadi ibukota Indonesia adalah Bireuen Aceh. Bireuen dianggap aman, karena dikelilingi perbukitan yang dapat menjadi benteng alam, untuk melindungi pusat pemerintahan dari serangan musuh. (RIW/RDM/EYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.