5 Maret 2021

Kunjungi Pabrik Tusuk Sate, Hanif Kejar Percepatan Perhutanan Sosial

2 min read

Kepala dinas kehutanan Kalsel (baju putih) saat melakukan kunjungan ke salah satu pabrik tusuk sate di Malang.

BANJARBARU –  Berbagai upaya dilakukan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, untuk mendukung percepatan program Perhutanan Sosial melalui Kelompok Tani Hutan (KTH). Salah satunya dilakukan kepala dinas kehutanan Kalsel Hanif Faisol Nurofiq, dengan mengunjungi beberapa pabrik tusuk sate di wilayah Jawa Timur, terutama Malang. Kunjungan ini dimaksudkan, untuk melihat langsung manajemen pengelolaan dan sistem kerja peningkatan kualitas tusuk sate. Contohnya pabrik Bamboo Skewers milik Sunarko di desa Turen, dan pabrik milik Umar Faruk di desa Kepanjen Malang.
Seluruh pabrik yang dikunjungi rata-rata memiliki peralatan mesin potong, mesin poles dan peruncingan, unit oven, unit pengasapan belerang dengan kapasitas produksi hingga 500 kilogram per hari.

“Sistem kerjanya melalui kemitraan dengan petani binaannya dari beberapa pengrajin. Petani mengerjakan pekerjaan dari bambu menjadi biting atau batang lidi dengan berbagai macam ukuran, setelah itu barulah diterima di pabrik. Selanjutnya pabrik akan melakukan pekerjaan finishing seperti pemotongan, pemolesan, peruncingan dan pengemasan,” jelas Hanif.

Sayangnya menurut Hanif, untuk pasar Kalsel, beberapa pihak pabrikan justru tidak mampu memenuhi. Sebab permintaan salah satu distributor di Kalsel itu, mencapai hingga 10 ton per minggu. Karena itulah, mereka meminta Dinas Kehutanan dapat memenuhi permintaan distributor, setara kualitas pabrikan di pulau Jawa tersebut.
“Dari kunjungan ke berbagai pabrik tersebut, kami mendapat beberapa saran dan tindak lanjut, untuk mengaplikasikan hal yang sama di beberapa KTH Kalsel, yang juga menggeluti produksi tusuk sate dari bambu. Diantaranya pembagian kerja KTH, mulai dari kelompok khusus memecah dan pencacah bambu, penyerut biting hingga
finishing di pabrik.

Selanjutnya memperbanyak mesin pencacah, penyerut dan unit oven di tingkat petani. Selain itu juga membentuk pabrik finishing sebagai pusat finishing produk serta mengirimkan petani untuk belajar manajemen pengelolaan pembuatan tusuk sate di Malang,” tambahnya.

Selama di Malang, Kadishut juga menyempatkan diri meninjau pabrik yang memproduksi berbagai mesin pengolah tusuk sate. Alat yang dibuat adalah mesin pembelahan, mesin pencacah, mesin penyerut, mesin poles, mesin peruncing, oven dan sejenisnya.
Mesin-mesin hasil pabrikan tersebut, sudah di kirim ke berbagai daerah di Jawa, Kalimantan, Bali, hingga Papua. (RIW/RDM/MTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.