18 April 2021

Sambang Lihum Siapkan Ranjang Baru Untuk Caleg Gagal

2 min read

Direktur RSJ Sambang Lihum saat berada di ruang tenang dan memberikan keterangan kepada wartawan pada Senin (22/04).

BANJAR – Saat ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih melakukan proses penghitungan suara rakyat, untuk menentukan siapa yang bakal jadi presiden dan wakil presiden Indonesia, serta siapa saja yang bakal menjadi wakil di lembaga legislatif daerah hingga pusat, dalam lima tahun ke depan. Menunggu proses penghitungan itu, tentunya para peserta harus menunggu dengan sabar dan hati yang tenang. Kenapa? Karena apapun nanti hasil keputusan KPU, seluruh peserta harus dapat menerimanya dengan lapang dana. Khususnya, jika ternyata dinyatakan kalah atau gagal. Jika tidak dihadapi dengan sabar dan lapang dada, maka dapat saja caleg yang gagal itu, menjadi stress dan bahkan mengalami gangguan jiwa.

Namun menurut Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum I Bagus Gede Dharma Putra, pemilu tahun ini jauh lebih kondusif dibanding pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga risiko stress karena gagal, jauh lebih rendah.
“Jikapun ada, mereka paling hanya akan melakukan rawat jalan. Bila terpaksa, baru dirawat inap. Tapi sampai saat ini, belum ada caleg yang datang ke sini, baik untuk sekadar konsultasi ataupun rawat jalan,” jelasnya kepada wartawan usai memperlihatkan ruang hening dengan puluhan tempat tidur baru pada Senin (22/4) di areal komplek RSJ Sambang Lihum.

Meski begitu, Dharma (sapaan akrab direktur RSJ) mengatakan, pihaknya tetap menyiapkan puluhan tempat tidur baru, sebagai antisipasi kemungkinan adanya caleg gagal, yang harus menjalani perawatan.
“Konsep kita di ruang ini adalah sistem keterbukaan, tanpa pasien merasa dikekang. Walaupun konsep kamar dibuat sedemikan rupa, agar perawat tetap dapat mengawasi pasien meski dari lantai dua, dan dibantu CCTV. Dengan begitu, pasien yang mengalami stress tidak merasa tertekan, dan menuju proses kesembuhan. Ruangan ini tidak hanya berlaku untuk caleg gagal saja, tapi juga untuk umum,” tambahnya.

Saat ini RSJ milik pemerintah provinsi Kalsel tersebut, menangani 400 lebih pasien, dengan 150 diantaranya merupakan pasien ketergantungan obat. Sebagian besar pasien yang dirawat inap di RSJ Sambang Lihum ini, berjenis kelamin laki-laki, dan perempuan justru sangat jarang. Berdasarkan informasi yang berhasil didapat Abdi Persada FM dari direktur RSJ, keluarga cenderung menyembunyikan orang dengan gangguan jiwa berjenis kelamin perempuan. Alasan terbesarnya adalah karena rasa malu, dan tidak ingin diketahui memiliki keluarga dengan gangguan jiwa. (RIW/RDM/MTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.