13 April 2021

Sarkani, Saksi Hidup Sejarah Pemilu Indonesia

2 min read

Sarkani usai mencoblos di TPS 01 Sungai Jingah Banjarmasin Utara pada Rabu (17/04).

BANJARMASIN – Seorang lelaki berkacamata mengenakan pakaian garis-garis berwarna coklat, sekitar jam 09.30 WITA Rabu (17/4), memasuki TPS 01 Sungai Jingah Banjarmasin Utara. Dilihat dari rambutnya yang sudah berwarna putih dengan kerutan diwajahnya, semua orang dapat melihat dengan jelas, bahwa lelaki ini sudah berusia lebih dari 60 tahun. Sejumlah petugas berupaya membantu lelaki ini, dengan sesekali memeganginya ketika menuju bilik suara. Pun ketika Ia memasukkan surat suara yang sudah dicoblosnya, kedalam kotak suara. Seorang petugas KPPS dengan sigap selalu mendampinginya, jika sewaktu-waktu bantuannya diperlukan sang lelaki tua ini. Karena tampilannya ini, para wartawan pun menyerbunya di pintu keluar TPS, untuk meminta konfirmasi sebagai salah satu pemilih lansia.

Kepada wartawan, lelaki bernama Sarkani itu mengaku sudah berusia 83 tahun. Pengakuannya ini membuat para wartawan berdecak kagum, karena kesediannya datang ke TPS untuk menyalurkan hak pilih. Padahal, pemilih pemula dapat saja diistimewakan melakukan pencoblosan di rumah, dan petugas KPPS lah yang datang mengantar surat suara beserta kotaknya. Namun lelaki bersahaja ini memilih datang sendiri ke TPS, karena merasa mampu.
“Ini sudah kesekian kalinya saya ikut pemilu. Bahkan saya juga sudah ikut memilih sejak pemilu pertama tahun 55 lalu,” jelasnya yang semakin membuat para jurnalis terkesima.

Ketika ditanya wartawan, apakah ada bedanya antara setiap pemilu yang diikutinya, Sarkani mengatakan tidak.
“Sama saja menurut saya. Hanya saja metodenya yang berubah, mengikuti perkembangan zaman dan tentunya untuk lebih memudahkan memilih,” katanya.

Lelaki yang juga pernah menjadi petugas KPPS ini mengaku, tidak merasa kesulitan dengan surat suara caleg DPR RI, DPRD provinsi dan kabupaten/kota yang berukuran besar.
“Biasa saja, tidak merepotkan,” tutupnya.

Dari Sarkani, kita yang muda dapat belajar, bahwa di usia senja, Ia masih percaya bahwa Pemilu menjadi jalan bagi dirinya untuk turut menentukan nasib bangsa ini. Bahkan itu sudah dilakukannya sejak pemilu pertama kali digelar di Indonesia pada tahun 1955 lalu. Sebagai seorang saksi hidup perjalanan pemilu di Indonesia, kita juga dapat belajar dari Sarkani, hingga usia senja pun Ia masih memiliki harapan tinggi terhadap Indonesia yang lebih baik. (RIW/RDM/MTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.