BanjarmasinNewsProvinsi Kalsel

Pancaroba, Kalsel Waspadai Titik Api

BANJARMASIN – Sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), bahwa musim hujan di Kalimantan Selatan baru akan benar-benar berakhir pada April 2019 mendatang. Karena itulah, Gubernur Kalsel Sahbirin Noor menetapkan status siaga bencana banjir terhitung sejak akhir tahun 2018 lalu, hingga 30 April mendatang. Hal itu mengingat tingginya intensitas hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah kabupaten/kota di Kalsel. Namun pada akhir Februari dan Maret 2019, sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan sudah memasuki musim pancaroba atau musim peralihan dari hujan menuju kemarau. Bahkan kabupaten Kotabaru, diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal, yang ditandai dengan munculnya kebakaran lahan di areal seluas 2,6 hektar pada pertengahan Februari lalu.

Hal itu seperti disampaikan kepala BPBD Kalsel Wahyuddin kepada Abdi Persada FM, baru – baru ini. Wahyuddin mengatakan, sejumlah daerah di Indonesia sudah mulai mewaspadai munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama 6 provinsi yang masuk daerah rawan. Salah satunya adalah provinsi Kalimantan Selatan.

“Dua provinsi rawan karhutla sudah mulai waspada, seiring dengan datangnya musim pancaroba ini. Bahkan provinsi Riau dan Sumatera Selatan sudah mulai mengalami karhutla dibeberapa titik wilayahnya. Parahnya sudah ada yang mengalami kabut asap,” jelasnya.

Terkait hal ini, maka menurut Wahyuddin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah menggelar rapat koordinasi di Jakarta pada 27 Februari lalu, dengan mengundang 6 provinsi rawan karhutla di Indonesia. Diantaranya Kalsel, Riau, Sumatera Selatan dan Papua.

“Pada intinya rakor ini digelar untuk menyiapkan kewaspadaan jelang datangnya musim kemarau, khususnya terhadap ancaman bencana karhutla. Tujuannya tidak lain, supaya bencana karhutla tidak meluas dan menyebabkan munculnya kabut asap. Apalagi selama 2 tahun terakhir, sejumlah provinsi rawan itu mampu menekan angka karhutla. Contohnya Kalsel, yang masuk dalam kategori terbaik dalam penanggulangan karhutla,” tambahnya.

Sementara itu, data BPBD Kalsel menunjukkan, pada musim pancaroba ini, masyarakat perlu mewaspadai kemunculan angin puting beliung. Apalagi hingga akhir Februari 2019 ini, sudah ada 36 kejadian bencana angin puting beliung disejumlah kabupaten/kota. Dimana dampak terbesar dirasakan warga Bararawa Hulu Sungai Utara (HSU), dengan rusaknya 10 unit rumah dalam satu kejadian angin puting beliung pada 12 Februari lalu. Sementara kabupaten Banjar, menjadi kabupaten dengan jumlah bencana angin puting beliung terbanyak hingga 8 kali kejadian terhitung sejak akhir tahun 2018, sampai Februari 2019. (RIW/RDM/EYN)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat