5 Maret 2021

Penduduk Miskin Kalsel Terus Bertambah, Ini Angkanya

2 min read

Kabid statistik sosial BPS Kalsel (paling kiri).

BANJARBARU – Tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2018, diketahui sebesar 9,66 persen. Angka itu menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan sebesar 0,16 poin dibandingkan Maret 2018, dimana angkanya sebesar 9,82 persen. Namun ternyata sejumlah provinsi di Indonesia, justru mengalami peningkatan jumlah penduduk miskin selama 6 bulan, terhitung dari Maret hingga September 2018. Salah satunya adalah provinsi Kalimantan Selatan, yang diketahui mengalami penambahan jumlah penduduk miskin, sebanyak 5.980 orang. Yakni dari 189.030 orang pada Maret 2018, naik menjadi 195.010 penduduk miskin pada September 2018. Data ini disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Kalimantan Selatan per 6 bulan, pada Juli dan Februari.

Kabid statistik sosial BPS Kalsel Agnes Widyastuti menjelaskan, selama periode 2006 – 2018, jumlah penduduk miskin di Kalimantan Selatan selalu berada pada kisaran 4 hingga 6 persen. Tertinggi adalah pada 2006 lalu, yakni sebanyak 8,32 persen atau setara dengan 278.450 jiwa.

“Tahun ini prosentase penduduk miskin Kalsel 4,65 persen, dan masih tergolong kecil dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Bahkan di pulau Kalimantan, Kalsel adalah provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah. Begitu pula di tingkat nasional, Kalsel berada di peringkat ketiga dengan jumlah penduduk miskin terkecil, setelah DKI Jakarta dan Bali,” jelas Agnes saat jumpa pers dikantornya baru-baru tadi.

Lebih lanjut Agnes menjelaskan, pada September 2018 garis kemiskinan Kalsel juga mengalami kenaikan, dari Rp427.774 perkapita per bulan pada Maret 2018, naik menjadi Rp436.163 perkapita per bulan.

“Garis kemiskinan ini adalah batas penentu apakah seseorang termasuk dalam kategori miskin atau tidak miskin. Dengan kata lain, jika penghasilan seseorang berada di bawah rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah garis kemiskinan, maka dapat digolongkan sebagai penduduk miskin,” ujarnya.

Sumber data utama yang dipakai BPS untuk menghitung tingkat kemiskinan pada September 2018 itu, adalah data Susenas bulan yang sama. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan, yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Head Count Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. (RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.