15 April 2021

Bagasi Berbayar di Indonesia, Salah Satu Termahal di Dunia

2 min read

Ilustrasi bagasi pesawat (sumber: airport.id).

BANJARMASIN – Dunia usaha di Kalimantan Selatan,  sudah dihantam sejumlah persoalan di berbagai sektor awal tahun 2019 ini. Salah satunya adalah kenaikan harga tiket pesawat, yang sangat berdampak pada usaha sektor pariwisata serta perhotelan, dan biro jasa perjalanan. Belum cukup sampai disitu, persoalan baru menyusul datang di awal Februari 2019. Yakni dengan diberlakukannya bagasi berbayar, oleh dua maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air dan Garuda Indonesia. Lengkap sudah. Tiket mahal, bagasi harus bayar pula. Dampak kenaikan harga tiket dan bagasi berbayar ini, mulai dirasakan para pelaku dunia usaha sejak akhir tahun 2018 hingga saat ini. Yakni dengan turunnya pendapatan hingga 30 persen, dari kondisi normal.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kalimantan Selatan Supriadi mengaku, pemberlakuan bagasi berbayar oleh dua maskapai penerbangan di Indonesia, adalah yang paling besar dampaknya dirasakan para pengusaha, hingga sektor UMKM.

“Tak tanggung-tanggung lho, dari bebas bayar bagasi untuk bobot maksimal 20 kilogram, menjadi berbayar untuk semua bagasi. Kecuali barang yang dibawa ke kabin, itupun maksimal hanya 7 kilogram saja. Hitung saja berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bagasi, belum lagi tiket pesawat yang mahal,” jelasnya.

Menurut Supriadi, bagasi berbayar wajar saja diberlakukan maskapai penerbangan di Indonesia, karena hal yang sama juga diberlakukan maskapai penerbangan di luar negeri. Hanya saja, perlu dipertimbangkan soal tarif yang diberlakukan.

“Setahu saya, banyak negara di dunia yang memberlakukan bagasi berbayar. Bahkan ada yang tergolong mahal, seperti China, Vietnam dan Brunei Darussalam di kawasan Asia. Namun kebijakan itu diberlakukan, karena adanya kebijakan penggunaan transportasi lain. Seperti kereta untuk China, dan penggunaan maskapai penerbangan lokal untuk Vietnam dan Brunei Darussalam,” ujarnya.

Sementara pemberlakuan bagasi berbayar di Indonesia, tidak dibarengi kebijakan yang dapat memberi solusi.

“Tahun 90-an memang dominasi transportasi adalah melalui jalur laut, sekitar 50 hingga 70 persen. Namun di era tahun 2000 – an ke atas, penggunaan pesawat lah yang mendominasi hingga 90 persen. Sehingga pemberlakuan bagasi berbayar oleh maskapai, sangat memberatkan. Apalagi bagasi berbayar di Indonesia, termasuk salah satu yang termahal di dunia saat ini,” akunya. (RIW/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.