12 April 2021

Bagasi Berbayar, Ancam Pariwisata Kalsel

2 min read

Wisatawan asing membeli oleh oleh di salah satu toko souvenir di Banjarmasin (sumber: amplangikan.blogspot.com).

BANJARMASIN – Bukan rahasia lagi, jika sektor batubara masih menguasai ekonomi Kalimantan Selatan sebagai penyumbang devisa ekspor terbesar setiap tahunnya. Namun diketahui pula, bahwa batubara adalah sumber daya alam yang dapat habis sewaktu-waktu, dan provinsi Kalsel harus segera menggantikan posisinya dengan sumber pendapatan lain. Langkah itu sudah dilakukan pemerintah, dengan salah satunya memajukan sektor pariwisata. Mengingat potensi wisata yang dimiliki provinsi ini masih begitu besar, dan belum semuanya terkelola dengan maksimal. Bahkan pembangunan sektor pariwisata ini sudah dimasukkan dalam RPJMD 2017 – 2022. Sayangnya, langkah untuk memajukan sektor pariwisata ini, terganjal sejumlah persoalan. Salah satunya adalah kebijakan sepihak maskapai penerbangan di Indonesia, memberlakukan bagasi berbayar. Dampaknya, pelancong atau wisatawan yang datang dipaksa berpikir ulang, untuk membeli buah tangan atau souvenir khas Kalsel sebagai oleh – oleh. Karena mereka takut harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bagasi. Kondisi ini diperparah pula dengan harga tiket pesawat yang masih tinggi.

Kepada Abdi Persada FM, salah seorang pemilik toko souvenir di Banjarmasin Sri Kusminingsih menuturkan, bahwa dampak perberlakuan bagasi berbayar, sudah dirasakan sejak awal tahun tadi, saat kebijakan itu mulai diberlakukan.
“Dalam sehari biasanya untuk makanan seperti amplang dalam kemasan, kami dapat menjual hingga 100 dus. Namun dalam dua bulan terakhir, penjualan menurun berkisar 50 sampai maksimal 70 dus saja. Ya bisa dibilang, 30 persen pendapatan kami menurun gara – gara bagasi berbayar,” jelas wanita yang juga menduduki jabatan wakil ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kalsel tersebut.
Apalagi menurut Sri, dirinya memiliki toko souvenir di kawasan bandara Syamsudin Noor, dimana pembayaran sewanya tergolong tinggi per tahun.
“Semakin kecil pemasukan, maka akan semakin sulit kami membayar sewa tempat itu. Jadi kami akan segera tutup toko di bandara, dan mempertimbangkan untuk membuka toko di lokasi bandara baru nantinya. Semoga saja dalam waktu dekat ada solusi terkait bagasi berbayar ini, sehingga bisnis souvenir ini dapat kembali bergairah,” harapnya.

Sementara itu, menurut asisten 2 bidang ekonomi pembangunan pemprov Kalsel Hermansyah Manap, kebijakan bagasi berbayar ini akan mengancam sektor pariwisata Kalsel. Padahal, tahun ini akan ada banyak agenda pariwisata terjadwal. Diantaranya festival Pasar Terapung yang masuk agenda nasional, dan yang terdekat adalah Haul Guru Sekumpul yang masuk agenda wisata religi.
“Harusnya semakin banyak wisatawan yang datang, maka akan semakin banyak uang yang mereka belanjakan di sini, yang ujung-ujungnya pasti akan berdampak positif bagi ekonomi Kalsel, terutama sektor ekonomi kreatif. Tapi dengan adanya kebijakan ini, wisatawan yang datang justru malas membeli oleh – oleh dalam jumlah besar, karena akan dikenakan biaya tinggi untuk bagasi. Pada akhirnya juga wisatawan yang datang berkurang, seiring dengan harga tiket pesawat yang mahal,” ujarnya.
Dengan begitu, menurut Hermansyah, bagasi berbayar secara langsung dapat membunuh pariwisata Kalsel, jika terus berlanjut. (RIW/RDM/MTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.