18 Juni 2021

Kusta Bukan Penyakit Turunan atau Kutukan

2 min read

Tim P2PM Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar sedang melakukan monitoring ke rumah penduduk

BANJAR – Untuk mengurangi dan mengubah stigma yang salah terhadap penderita penyakit kusta, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar melakukan monitoring dan penyuluhan di berbagai tempat, salah satunya di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan, Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Rusida kepada Abdi Persada Fm, melalui Kepala Seksi P2PM Thaufikurrahman Senin (14/1) siang saat di temui di ruang kerjanya.
Di sampaikan Taufik masih banyak stigma yang salah dari masyarakat bahwa kusta ini adalah penyakit yang patut ditakuti, sehingga adanya diskriminasi atau dikucilkan terhadap si penderita. Menurut Taufik penyakit kusta ini di sebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, bukan disebabkan oleh karena kutukan, apa lagi faktor keturunan.
“Penyakit ini penularannya melalui pernapasan dengan kontak yang dekat dan lama terhadap penderita misalnya dalam satu rumah, bukan karena kutukan atau keturunan yang kemudian harus diasingkan atau di isolasi, Oleh karena itu kami mencari atau memonitoring penderita terkena kusta di Kabupaten ini untuk melakukan pencegahan serta penyuluhan untuk mengubah stigma masyarakat yang salah oleh sebagian masyarakat,” jelas Taufik.

Lebih lanjut Taufik menambahkan penyakit kusta ini bisa disembuhkan melalui pengobatan secara rutin dan intensif seperti penderita yang ditemui pihaknya di kecamatan Karang Intan yang bisa sembuh karena rutin melakukan pengobatan selama satu tahun.

Untuk itu masyarakat diminta jangan khawatir terhadap penyakit ini, karena melalui deteksi dini akan lebih cepat penanganannya maupun pencegahannya.

Sementara itu di tempat yang sama Pengelola Program Kusta Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Syahdan mengungkapkan, untuk kasus kusta di tahun 2017 yang lalu berjumlah 22 kasus baru, sedangkan ditahun 2018 yang lalu berjumlah 28 kasus baru, menurut Syahdan karena diketahui peningkatan ini berdasarkan hasil survey secara intensif oleh pihaknya guna meningkatkan derajat kesehatan, baik terhadap penderita maupun ke masyarakat yang kontak langsung dengan si penderita serta ke sekolah-sekolah. Ini di lakukan untuk mendeteksi sejak dini dan mencegah terjadinya kecacatan serta mengubah stigma masyarakat yang salah dengan berbagai penyuluhan, karena menurut Syahdan dari 100 orang yang bergaul dengan si penderira hanya terjadi 2 persen tingkat penularannya atau hanya 2 orang saja yang akan tertular.

Lebih lanjut Syahdan menambahkan pihaknya berupaya untuk mensosialisaikan melalui pendekatan ke masyarakat dan sekolah-sekolah bahwa penyakit ini tidak mudah menular melalui deteksi lebih awal.

“Untuk gejala kusta sendiri yang patut di ketahui masyarakat, terjadi bercak-bercak seperti panu pada kulit yang mati rasa ketika di sentuh, dan juga apabila menyerang pada syaraf misalnya pada telapak tangan atau telapak kaki ketika disentuh atau di pegang tidak akan berasa,” jelas Syahdan.

Lebih jauh Syahdan menghimbau bagi masyarakat yang mengalami gejala-gejala tersebut agar segera melakukan pemeriksaan ke layanan kesehatan terdekat seperti Puskesmas.

Untuk diketahui, penyakit Kusta ini ada dua jenis yakni Kusta Kering gejalanya terdapatnya kurang dari 5 bercak pada kulit , dan Kusta Basah terdapatnya lebih dari 5 bercak pada kulit, yang keduanya ketika disentuh mati rasa. Kusta basah akan lebih cepat penularannya dari pada kusta kering, untuk pengobatan kusta kering di lakukan selama 6 bulan dan kusta basah selama 12 bulan dengan cara meminum obat secara rutin setiap hari. (AF/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.