23 Juni 2021

Insyaf! Cara Atasi Kelangkaan Elpiji di Kalsel

2 min read

Kepala Dinas Perdagangan Kalsel saat memberikan keterangan kepada Abdi Persada FM pada Kamis (3/01).

BANJARBARU – Jelang pergantian tahun 2018 menuju 2019, harga elpiji tabung 3 kilogram kembali melonjak di wilayah Kalimantan Selatan. Bahkan ditingkat pengecer, harganya dapat mencapai 30 ribu rupiah per tabung, atau hampir 2 kali lipat dibanding harga eceran tertinggi (HET) di agen atau pangkalan, yang dipatok sebesar 17.500 rupiah per tabung.

Melihat kondisi ini, maka pemerintah provinsi melalui dinas perdagangan Kalsel mengajukan permohonan penambahan pasokan kepada Pertamina. Usulan itu ternyata disetujui, dan dipasoklah sekitar 97 ribu tabung elpiji tambahan, sejak 17 Desember 2018 lalu.

Kepada Abdi Persada FM, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel Birhasani menjelaskan, seharusnya tambahan pasokan itu dapat mengatasi langkanya elpiji bersubsidi di pasaran, yang memicu kenaikan harga. Namun nyatanya, pasokan tambahan itu tidak berpengaruh sama sekali. Hingga saat ini, harga elpiji masih tinggi dan barang sulit didapat.

“Selama sistem penjualan terbuka masih diberlakukan untuk elpiji bersubsidi ini, maka berapapun tambahan pasokan yang diberikan, tidak akan pernah cukup. Karena kebocoran penjualan kepada orang yang tidak berhak, tidak dapat diatasi,” jelasnya.

Seharusnya menurut Birhasani, masyarakat dengan gaji diatas 1,5 juta rupiah per bulan, tidak diperkenankan lagi membeli elpiji yang dikhususkan bagi masyarakat miskin ini.

“Kita harus akui, masih banyak orang yang bergaji besar membeli elpiji jenis ini. Termasuk pelaku usaha besar, seperti restoran dan rumah makan. Untuk mereka saya minta, Insyaflah! Ini bukan hak kalian,” tegas Birhasani.

Kenaikan harga elpiji bersubsidi di Kalsel ini selalu berulang. Penyebabnya pun masih sama, yakni pasokan kosong yang mendorong kenaikan harga. Padahal Pertamina mengaku sudah memasok elpiji tabung 3 kilogram sesuai jumlah pendudukan miskin di Kalsel, namun selalu tidak cukup. Hal ini disinyalir karena adanya penyelewengan penjualan elpiji bersubsidi ini, kepada masyarakat dengan kemampuan finansial mumpuni, dan bukan untuk kalangan yang berhak. (RIW/RDM/EYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.