13 April 2021

2018, Kalsel Hanya Miliki 161 Desa Tertinggal

2 min read

Suasana press release Badan Pusat Statistik provinsi Kalimantan Selatan.

BANJARBARU – Berdasarkan data yang di rilis oleh badan pusat statistik provinsi Kalimantan Selatan pada Rabu (2/1). Indeks pembangunan desa telah menunjukkan perbaikan status. Tercatat pada tahun 2018 ini hanya ada 161 desa tertinggal atau berkurang sebesar 230 desa bila dibandingkan tahun 2014 yang lalu sebanyak 391. Sementara itu, desa mandiri bertambah sebesar 51 desa dari sebelumnya pada tahun 2014 hanya 17 desa menjadi 68 desa mandiri pada tahun 2018. Sedangkan desa berkembang bertambah dari 1.456 desa menjadi 1.645 desa. Perbandingan status indeks pembangunan desa ini dilakukan untuk desa-desa yang sama dengan tahun 2014 yaitu sebesar 1.864 desa. Pada tahun 2018 ada sebanyak 68 desa mandiri,  dan 1.635 desa berkembang.

kepala bidang statistik sosial badan pusat statistik provinsi Kalimantan Selatan Agnes Widiastuti menyampaikan di Kalsel tidak ada penambahan jumlah desa, yang ada hanya penambahan kecamatan.

“Di Kalsel tidak ada penambahan desa selama 4 tahun terakhir, yang ada hanya penambahan kecamatan dari sebelumnya pada 2014 sebanyak 152 menjadi 153,” ucapnya.

Indeks pembangunan desa terang Agnes disusun berdasarkan 5 dimensi yaitu, dimensi pelayanan dasar, dimensi kondisi infrastruktur, dimensi transportasi, dimensi pelayanan umum dan dimensi penyelenggaraan pemerintah desa.

Salah satu potensi unggulan desa/kelurahan di Kalimantan Selatan adalah potensi wisata.

Potensi desa/kelurahan ini pada umumnya penduduk di kawasan desa wisata memiliki tradisi dan budaya khas serta alam dan lingkungan yang masih terjaga.

Pendataan potensi desa 2018 mencatat bahwa ada 31 desa atau kelurahan wisata di Kalimantan Selatan terbanyak kedua setelah Kalimantan tengah.

“Peningkatan desa/kelurahan wisata ini juga diiringi dengan meningkatnya fasilitas pendukung seperti restoran/rumah makan dan penginapan,” terang Agnes.

Agnes juga menjelaskan, selain potensi pembangunan tersebut, desa/kelurahan juga tidak luput dari permasalahan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah dari segi ekonomi.

Seiring dengan globalisasi pasar, peran warung yang bersifat tradisional sedikit demi sedikit diambil alih oleh toko modern yang dimiliki oleh pemodal besar.

Jumlah minimarket di desa/kelurahan terus bertambah, tercatat dari 117 pada tahun 2014 menjadi 183 pada tahun 2018 atau meningkat 56,41 persen. Peningkatan minimarket ini diiringi dengan penurunan keberadaan warung makan maupun warung kelontong.

“ini menjadi tantangan bagi desa kelurahan bagaimana keberadaan minimarket tidak menggerus pasar yang sudah dimiliki oleh toko atau warung tradisional di masa mendatang,” terangnya. (ASC/RDM/EYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.