3 Maret 2021

Guru dan Pelajar Dukung Wacana Menghidupkan Lagi Mata Pelajaran PMP

2 min read

Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMA Negeri 2 Banjarmasin, Susana Putriningsih ketika diwawancarai wartawan di ruang kerjanya, Selasa (4/12/2018).

BANJARMASIN – Moral dan etika generasi muda dewasa ini dinilai mulai tergerus. Krisis dan degradasi akhlak mengakibatkan keresahan banyak kalangan, sehingga perlu ada opsi dalam mengatasinya.

Untuk mengatasi masalah ini, salah satu upaya pemerintah adalah dengan  menghidupkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang diusulkan oleh Kemendikbud RI, dan hal ini terus mendapatkan aliran dukungan. Tak terkecuali guru dan pelajar di Banua. Mata pelajaran PMP dinilai layak kembali masuk kurikulum pendidikan karena bisa menanamkan nilai-nilai moral pancasila sejak dini di lingkungan sekolah. Ketika diterapkan bisa memberi bekal nilai-nilai luhur yang berimplikasi positif bagi generasi muda untuk menjadi manusia lebih baik, produktif dan inovatif.

Seperti Susana Putriningsih, seorang guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMA Negeri 2 Banjarmasin. Ia menyatakan siap menjadi ujung tombak negara untuk memberikan materi PMP kepada siswa.

“Jika memungkinkan mata pelajaran PKn tetap dipertahankan dan dikolaborasi dengan  PMP. Durasi pembelajaran juga harus ditambah sehingga bisa maksimal dalam penyampaiannya,” sarannya.

Sementara itu, Wiena Frisma Putri, seorang siswi kelas 10 IPS SMA Negeri 2 Banjarmasin mengakui moral dan etika generasi muda dewasa ini dinilai mulai tergerus. Menurutnya, hal itu terjadi karena tidak adanya mata pelajaran khusus untuk pendidikan moral. Sehingga wacana mata pelajaran PMP masuk kurikulum pendidikan sekolah sangat dibutuhkan. Apalagi ke depan, tantangan yang dihadapi generasi muda sangat kompleks karena arus informasi tak bisa dibendung. Sehingga budaya dari luar yang tak sesuai dengan Pancasila dikhawatirkan terus menulari generasi muda. Melalui pelajaran PMP, Wiena berharap siswa mampu memfilter sisi negatif budaya luar.

“Meski saya sendiri belum pernah merasakan materi PMP, tetapi saya optimis mata pelajaran itu akan memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter siswa,” katanya.

Secara terpisah, siswa kelas 12 SMA Negeri 2 Banjarmasin,  Arya Wicaksana juga setuju jika PMP masuk kurikulum kembali, hal ini dapat dijadikan penangkal budaya negatif bagi remaja. Tetapi ia lebih menyarankan jika mata pelajaran muatan lokal kembali ditingkatkan sehingga mampu mengembangkan bakat siswa.

“Kegiatan itu bertujuan untuk mengurangi aktivitas pelajar di luar sekolah maupun di rumah yang berpotensi melakukan perilaku menyimpang,” jelasnya. (NRH/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.