30 Juli 2021

Banjar Waspada Penularan HIV

2 min read

BANJAR – Agar memiliki satu layanan perawatan dukungan dan pengobatan, untuk akses layanan pengobatan yang lebih berkesinambungan dari awal ditemukan sampai pasien mau berobat,

Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas kesehatan menggelar pelatihan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) tim layanan HIV Aids kabupaten Banjar tahun 2018.

Sebanyak 12 orang berasal dari Tim PDP RS Ratu Zalecha Martapura, Puskesmas Martapura 1 dan  Puskesmas Sungai Tabuk 1, masing masing mengirimkan 1 dokter, 1 perawat (pengelola HIV), 1 apoteker, dan 1 admin RR yang akan menjalankan sistem pelaporan siha yaitu sistem informasi HIV Aids mengikuti pelatihan selama 4 hari sejak Selasa (4/12) hingga Jum’at (7/12) Desember bertempat di salah satu hotel di Banjarbaru.

Hal ini dilakukan karena pengobatan pasien HIV bersifat seumur hidup, selain itu juga sebagai bentuk mendekatkan layanan kepada masyarakat kemasyarakat.

Kepada Abdi Persada FM pengelola program HIV Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar Iis Pusparina mengatakan kabupaten Banjar saat ini berada di rangking 4 pengidap HIV Aids terbanyak di Kalimantan Selatan setelah Kota Banjarmasin, Kabupaten Tanah Bumbu dan kota Banjarbaru dengan total 138 pasien secara kumulatif dari tahun 2005 hingga 2018 ini.

“Khusus untuk 2018 saja ada 26 pasien HIV Aids yang ditemukan,” terangnya

Iis Pusparina mengatakan hasil ini didapat melalui penjaringan dan peran aktif 24 puskesmas di seluruh wilayah kabupaten Banjar yang melakukan tes kepada kelompok berisiko tinggi.

“24 Puskesmas kita selalu melakukan tes screening terhadap kelompok berisiko seperti ibu hamil, pasien infeksi menular seksual, pasien TB, warga binaan serta kelompok waria,” jelasnya.

Lebih lanjut Iis menjelaskan letak geografis kabupaten Banjar yang memungkinkan mobilitas orang keluar masuk serta kabupeten Banjar  yang juga termasuk dalam wilayah perkotaan menjadikan adanya komunitas yang masuk dalam kelompok beresiko tinggi di kabupaten Banjar.

Diakui Iis pengidap HIV Aids ibarat fenomena gunung es yang harus segera di temukan, sehingga pihaknya melakukan kerjasama komunitas penggiat HIV, sehingga dapat secepatnya ditemukan dan diobati.

“Upaya yang di lakukan adalah dengan STOP, suluh (penyuluhan), temukan, obati, dan pertahankan,” pungkasnya. (ASC/RDM/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.
×

Powered by WhatsApp Chat

× How can I help you?