23 Juni 2021

Prostitusi Online di Rumah Kontrakan

2 min read

Terduga pelaku prostitusi Online SP saat Di BAP Petugas Satpol PP Kabupaten Banjar

BANJAR – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Banjar mengamankan sepasang muda mudi AS (21), warga asal Kecamatan Mataraman dan SP (17) warga Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Keduanya diduga melakukan praktek prostitusi online di rumah kontrakan di Gang Merpati, Kelurahan Indrasari, Kecamatan Martapura, Kamis (15/11).

 

Kepada sejumlah Wartawan Kepala Satpol PP Banjar Ahmadi mengatakan, temuan dugaan kasus prostitusi online tersebut merupakan tindak lanjut dari penelusuran laporan masyarakat dan anggota di lapangan. Dari laporan warga tersebut anggota menyamar sebagai pelanggan, dan setelah di selediki memang benar di tempat tersebut didapati sepasang muda-mudi yang bukan muhrim berada dalam satu kontrakan.

 

“Setelah ditindak lanjuti oleh anggota dengan menyamar sebagai pelanggan, diikuti dan intai rombongan menggunakan mobil patroli ke lokasi, ternyata memang benar adanya, dan langsung kita amankan AS terduga mucikari dan SP terduga PSK prostitusi online, langsung kami bawa ke kantor Satpol PP Banjar,” ujarnya.

 

Dari rumah kontrakan tersebut, petugas Sat Pol PP mengamankan barang bukti yang menguatkan dugaan praktik prostitusi online, seperti beberapa alat kontrasepsi berupa kondom, tisu, botol minuman keras dengan berbagai merek, Hand Phone yang dipergunakan untuk transaksi jual beli yang berisikan puluhan chat  lelaki hidung belang.

 

“Setelah kita lihat dari chat mereka di HP, ternyata banyak chatnya dengan pelanggan dan diduga mereka ini pemain lama, sementara ini kita amankan pelaku 1×24 jam, dan di lakukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dulu setelah itu baru kita lakukan sidang. Kedua terduga pelaku tersebut diancam Perda nomor 10 tahun 2007 tentang prostitusi,” jelas Ahmadi.

 

Sementara itu, AS (21)  terduga sang mucikari saat di wawancarai menceritakan, dirinya dan SP adalah sepasang kekasih dan sudah saling mengenal sejak dua tahun lalu. Dengan alasan ekonomi dan mengumpulkan dana untuk menikah,  AS terpaksa harus merelakan kekasihnya kepada lelaki hidung belang dengan melalui aplikasi di media sosial.

 

“Semua itu terpaksa kita lakukan karena ekonomi dan untuk biaya nikah, saya tidak pernah memaksanya, dia juga yang mau, yang mematok harganya pun bukan saya, tapi pacar saya itu sendiri, tugas saya hanya menjaga keamanan dan memantau di luar rumah,” ujar AS.

 

Sementara tanggapan serupa juga disampaikan SPterduga pelaku praktek prostitusi online , dirinya mengakui, memang benar telah melakukan penawaran melewati aplikasi di media sosial sejak tiga bulan lalu. Ia bahkan berani mematok mulai harga Rp 700 ribu sampai deal di angka Rp 200 ribu.

 

“Saya melakukan penawaran lewat HP dengan dibantu pacar saya, harga Rp 700 ribu, namun masih bisa ditawar sampai Rp 200 ribu. Tiga bulan saya melakukan ini, karena terdesak ekonomi,” akunya.

 

Selain itu SP juga dijelaskan, sebelum memutuskan untuk menjual tubuhnya, ia mengaku sempat berbeda pandang dengan AS, tapi keadaan ekonomi yang sangat mendesak dan dijanjikan untuk menikah dengan uang penghasilan ‘itu’, dirinya terpaksa melakukan perbuatan asusila tersebut. (AF/FHF/EYN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.