18 Juni 2021

Anak Lapas Dapat Pelatihan Kreatif

2 min read

Pemilik Rumah Kreatif Kota Banjarmasin Ariffin pada pelatihan keterampilan melibatkan anak-anak binaan LP dan penyandang disabilitas.

BANJARMASIN – Rumah Kreatif Kota Banjarmasin berkomitmen membantu warga dengan keterbatasan fisik seperti penyandang disabilitas. Untuk mendapatkan pekerjaan dengan keterampilan yang diajarkan. Selain itu, rumah kreatif juga melakukan pembinaan pelatihan kerja bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang masih dibawah umur.

Hal ini disampaikan pemilik Rumah Kreatif Kota Banjarmasin Muhammad Ariffin, kepada sejumlah wartawan, Rabu (7/11).

“Kami memberikan kepada warga binaan yang dititipkan di rumah kreatif Kota Banjarmasin ini, semuanya masih dibawah umur,” ujar Ariffin.

Menurut Ariffin, di rumah kreatif ini, anak-anak warga binaan tersebut dilatih, membuat kerajinan tangan seperti melukis sasirangan, menjahit, membuat produk olahan kerajinan seperti tas, dompet, dan lainnya. Sehingga diharapkan, anak-anak warga binaan ini, dapat memiliki keahlian untuk menjadi bekalnya nanti.

“Saat ini di rumah kreatif Kota Banjarmasin terdapat 4 anak-anak warga binaan LP yang menjalani latihan kerja di tempat kami,” tutur Ariffin lebih lanjut.

Dalam kesempatan tersebut, Ariffin juga mengatakan, tidak hanya warga binaan yang mereka berdayakan. Tetapi juga para penyandang disabilitas yang tergabung dalam rumah kreatif Kota Banjarmasin.

“Saat ini kami memberdayakan para penyandang disabilitas sebagai narasumber pada setiap pelatihan kerajinan yang digelar pemerintah atau pihak swasta yang bekerjasama dengan rumah kreatif Kota Banjarmasin,” ujar Ariffin.

Ariffin mengatakan, seperti yang terlihat pada pelatihan kerajinan tangan untuk pengrajin di Kota Banjarmasin, yang dilaksanakan oleh PKK Kota Banjarmasin. Narasumber yang dihadirkan dari penyandang disabilitas.

Menurut Ariffin, rumah kreatif Kota Banjarmasin berusaha untuk mengangkat potensi para penyandang disabilitas. Mereka dijadikan narasumber pada pelatihan ini. Agar kemampuan mereka dalam mengajar tidak kalah dengan orang normal pada umumnya.

“Pada pelatihan ini, penyandang disabilitas yang dilibatkan yaitu, penyandang tuli, dan tuna daksa,” pungkas Ariffin. (SRI/FHF/RRF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.