NewsProvinsi Kalsel

Waspada Cyber Bullying! Bukan Hanya Jadi Korban Tapi Pelaku

KAL-SEL – Di era kemajuan teknologi saat ini, kebutuhan terhadap tekhnologi informasi (Gedget) seakan setara dengan kebutuhan pokok, tanpa mengenal usia ataupun kalangan.
Namun kemajuan teknologi informasi ini bagai pisau bermata dua, jika tidak digunakan dengan bijak, maka yang seharusnya bernilai positif dan memberikan kemudahan dalam mencari informasi, malah dapat menjerumuskan kepada hal yang negatif seperti tindakan bullying di dunia maya terutama kepada anak.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui biro hukum mengadakan sosialisasi hak asasi manusia tentang pencegahan cyber bullying tehadap anak selasa (28/8) bertempat di ruang rapat H. Aberani Sulaiman Sekretariat Daerah Provinsi Kalsel.

Dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Syamsir Alam.

Dalam sambutannya menyampaikan perlakuan perundungan (bully) di dunia maya jelas sekali melanggar berbagai hak anak, seperti memeperoleh rasa aman, hak dihargai dan hormati, dan mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, hak bebas dari penyiksaan dan penghukuman lain yang tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia.

Kepada abdi persada fm, Syamsir Alam menyampaikan peran pemerintah dalam melindungi anak dari perundungan ini tertuang dalam perda no.11 tahun 2018 sudah memberikan dasar tentang perlindungan terhadap anak.
“seperti pada kasus pernikahan dibawah umur yang terjadi di kabupaten tapin beberapa waktu lalu, maka pemerintah melalui Dinas Perlindungan Anak bekerjasama dengan pihak terkait untuk langsung melindungi, bukan malah menjadi konsumtif pemberitaan, karena anak tersebut tidak mengerti dengan apa yang terjadi,” ujarnya

Sementara itu, salah seorang narasumber dalam sosialisasi ini AKBP Siti Zubaidah dari Ditreskrim Polda Kalsel mengatakan ada 3 payung yang menanungi bagi korban bullying ini, yaitu KUHP, UU ITE, dan UU perlindungan anak.
Siti zubaidah juga menjelaskan bully atau penghinaan ini sudah ada sejak lama, namun dengan era teknologi informasi yang begitu maju saat ini, maraknya kasus bullying juga semakin pesat. Jika pengawasan terhadap anak dalam penggunaan tekhnologi informasi ini kurang, maka tidak menutup kemungkinan bukan hanya menjadi korban, tetapi juga bisa menjadi pelaku bullying itu sendiri.
“jeratan terhadap kasus bullying ini akan berlaku jika orang dewasa yang melakukan terhadap anak, namun jika sesama anak, makan di lakukan restorative justice yang artinya duduk bersama untuk menyelesaikan masalah, karena selain sebagai korban, anak juga bisa sebagai pelaku” tandasnya

Peserta sosialisasi hak asasi manusia tentang pencegahan cyber bullying tehadap anak ini sebanyak 40 orang terdiri dari tenaga pengajar dan aparatur sipil negara yang mempunyai anak usia 1 hingga 13 tahun.

Menurut data unicef pada tahun 2016 menunjukkan, 41 sampai 50 persen remaja Indonesia dalam rentang usia 13 – 15 tahun, pernah mengalami perundungan di dunia maya. (ASC/RDM/MTB)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat