NewsProvinsi Kalsel

Demi Rakyat, Kemenkominfo Blokir Ratusan Ribu Situs Internet

BANJARMASIN – Kemajuan zaman tentunya akan banyak membawa keuntungan bagi manusia. Tak terkecuali kemajuan di bidang teknologi. Sebut saja saat ini, hampir seluruh penduduk Indonesia memiliki handphone atau telepon genggam cerdas, yang dapat terkoneksi dengan segala informasi, berkat adanya jaringan internet. Namun kemajuan ini, tak jarang juga menjadi bumerang bagi penggunanya. Contohnya keberadaan situs, media sosial dan akun online lainnya, justru digunakan segelintir orang untuk menyebarkan berita bohong (hoax), unsur kekerasan, kebencian, terorisme hingga konten dewasa atau pornografi.

Dengan alasan itulah kemudian, kementrian komunikasi dan informatika RI, memberi tindakan kepada akun atau situs-situs bermasalah tersebut.

Saat jumpa pers usai membuka rakornas ke-9 KI seluruh Indonesia di salah satu hotel berbintang di Banjarmasin pada Selasa (28/8), Menteri Kominfo RI Rudiantara mengungkapkan, ada dua cara penindakan yang sudah dilakukan selama ini. Yakni penindakan dari hilir oleh kemenkominfo, serta penindakan dari hulu oleh penegak hukum.
“Penindakan dari hilir, adalah dengan pemblokiran situs-situs yang dianggap berbahaya. Terutama yang menyebar konten berbau pornografi, kekerasan, kebencian serta penyebar berita bohong. Setidaknya sudah ada 800.000 situs yang kami blokir hingga Agustus ini”, jelas Rudiantara kepada wartawan.

Sementara penindakan dari hulu dilakukan pihak kepolisian, jika sudah mendapatkan cukup bukti sesuai Undang-undang ITE.

Lebih lanjut Rudiantara mengatakan, pemerintah perlu melakukan pengawasan dan penindakan terhadap akun atau situs yang membahayakan tersebut. Mengingat filter yang dimiliki masyarakat Indonesia saat ini masih belum kuat, untuk menyaring informasi apa saja yang seharusnya mereka ambil.
“Terbukti sampai saat ini, masih banyak saja untuk pengguna internet atau warganet yang percaya begitu saja, dengan informasi yang diterimanya melalui media sosial atau situs tertentu. Padahal belum dipastikan kebenarannya. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, untuk bersikap Tabayun, Tabayun dan Tabayun terhadap informasi yang diterima. Dengan kata lain, membiasakan diri untuk mengecek ulang setiap informasi yang diterima, sebelum membantu menyebarkannya melalui media sosial”, tutupnya. (RIW/RDM/MTB)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close
WhatsApp chat