6 Mei 2021

Lestarikan Sumber Daya Genetik Lokal Kalsel Melalui Perda

2 min read

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setdaprov Kalsel, H Syamsir Rahman (tengah), saat membuka Sosialisasi Perda No 10/2018, Selasa (21/8) di Ruang Rapat Aberani Sulaiman Setda Prov Kalsel di Banjarbaru.

BANJARBARU – Kalimantan Selatan memiliki Peraturan Daerah (Perda) No 10 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sumber Daya Genetik Lokal (SDGL)

Keberadaan Perda ini sebagai wujud komitmen pemerintah daerah dalam upaya menjaga dan melestarikan sumber daya lokal meliputi genetik hewan dan tanaman.

” Materi utama pada Perda ini untuk menjamin adanya pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik lokal yang meliputi Sumber Daya Genetik hewan dan Tanaman,” ujar Wakil Gubernur Kalsel H Rudy Resnawan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten III Bidang Administrasi Umum Setdaprov Kalsel, H Syamsir Rahman, saat membuka Sosialisasi Perda No 10/2018, Selasa (21/8) di Ruang Rapat Aberani Sulaiman Setda Prov Kalsel di Banjarbaru.

Dalam kegiatan Syamsir mengatakan, sesuai visi menuju Kalimantan Selatan yang mandiri dan terdepan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya menggali seluruh potensi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan berkelanjutan.
“Kami menyadari, bahwa dari jumlah dan kompleksitas penduduk yang terus berkembang, menuntut penyediaan sumber daya hayati secara mandiri dan berkelanjutan,” sebutnya.

Oleh sebab itu, dalam rangka melestarikan sumber daya hayati di daerah pembangunan sumber daya alam yang terbarukan harus dilakukan secara cermat dan terpadu. Salah satunya melalui pengelolaan sumber daya genetik lokal, yang memiliki nilai manfaat berupa nilai ekonomi, sosial budaya, dan keragaman genetik yang tinggi.

Disampaikanya pula, keragaman sumber daya genetik di Kalimantan Selatan memiliki potensi yang luar biasa. Salah satu contohnya, Itik Alabio. Itik Alabio salah satu rumpun itik lokal indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di provinsi Kalimantan Selatan.

Itik Alabio sendiri tergolong jenis itik unggul, karena mampu bertelor sampai 250 butir selama musim bertelor. Itik alabio mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh itik dari bangsa lainnnya dan merupakan sumber daya genetik ternak khas Kalimantan Selatan  dan Indonesia yang perlu dijaga dan dipelihara kelestariannya.

Di samping itu, Kalimantan Selatan memiliki sumber daya genetik lainnya dalam berbagai jenis. “Kita memiliki varietas padi unggulan, misalnya  siam mutiara dan siam saba yang termasuk varietas padi unggul,” jelasnya.

Melalui sosialisasi ini, Syamsir juga berharap jajaranya dapat memulai langkah-langkah terpadu, baik dari pemerintah provinsi kalimantan selatan maupun pemerintah kabupaten/kota dalam mengelola dan melestarikan sumber daya genetik lokal khas masing-masing daerah.

“Diharapkan, peraturan ini dapat tersosialisasi dengan baik, sehingga, tidak hanya pemerintah daerah, namun masyarakat dan seluruh stakeholders di Kalimantan Selatan dapat bersinergi dan melestarikan kekayaan sumber daya genetik lokal di banua  tercinta,” tambahnya.

Kepala Seksi Pembibitan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan Hamidah mengatakan, Perda yang berisi VII BAB dan 68 pasal ini dibuat bukan karena terjadinya wabah, perburuan tetapi juga akibat perdagangan atau pencampuran gen yang merusak keaslian.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Yayan Supiani dalam laporannya menyampaikan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta yang berasal dari SKPD Provinsi dan beberapa SKPD di Kabupaten/Kota yang jumlahnya sebanyak 40 orang tentang Perda Nomor 10 tahun 2018 tentang Pengelolaan Sumber Daya Genetik Lokal. (HUMPROVKALSEL/RDM/MTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.