13 Mei 2021

RSJ Sambang Lihum Dukung Program Bebas Pasung

2 min read

Direktur RSJ Sambang Lihum (depan berkacamata) saat menerima tamu dari RSJ Serui Papua Kamis pagi (16/8) sebelum acara peringatan HUT RSJ Sambang Lihum ke-10.

KAL-SEL – Sorak sorai para karyawan dan jajaran direksi serta para tamu, memenuhi aula RSJ Sambang Lihum, saat sejumlah penari berpakaian menyerupai penari giring-giring (tarian khas suku Dayak), naik ke atas panggung pada perayaan ulang tahun ke-10 RSJ Sambang Lihum pada Kamis (16/8). Bukan karena para penari itu memperlihatkan kekompakan dan tarian yang atraktif, tetapi karena para penari itu adalah mereka yang selama ini menjalani perawatan di rumah sakit milik pemerintah provinsi Kalimantan Selatan tersebut. Asal usul para penari sudah disampaikan pembawa acara sebelum mereka memulai atraksi, sehingga para tamu dan undangan pun memaklumi jika tarian yang disajikan, kurang dari sisi kekompakan. Bahkan para wartawan yang turut hadir pada acara tersebut, juga diingatkan untuk tidak mendokumentasikan saat mereka melakukan tarian, demi menjaga hak mereka sebagai pasien jiwa.

Ya, sepuluh tahun sudah RSJ Sambang Lihum hadir di provinsi Kalimantan Selatan, khusus untuk menangani pasien dengan gangguan jiwa. Tak terhitung berapa banyak sudah pasien gangguan jiwa yang sudah disembuhkan, dan dapat kembali ke keluarganya. Meski begitu diakui IBG Dharma Putra direktur RSJ Sambang Lihum kepada Abdi Persada FM, bahwa tidak semua pasien yang disembuhkan atau dipulihkan, dalam keadaan paripurna.
“Kategori pulih itu ada tiga. Yaitu pulih paripurna atau benar-benar sembuh dan tidak perlu lagi balik ke sini, kemudian pulih dengan gejala sisa yang masih harus rutin minum obat, serta pulih kambuh-kambuhan. Semuanya masing-masing prosentasenya adalah sekitar 30 persen,” ujar Dharma.
Masih menurut Dharma, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) bahwa ada sekitar 8000 orang dengan gangguan jiwa berat di Kalimantan Selatan, dari total jumlah penduduk sebanyak 4 juta jiwa lebih. Dengan 800 orang diantaranya harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
“Dari 500 tempat tidur yang tersedia di rumah sakit ini, hanya 85 persen saja yang terisi. Dengan kata lain, masih banyak orang dengan gangguan jiwa di lura sana, yang belum tertangani dengan baik. Sehingga patut dapat diduga, praktik pemasungan mungkin terjadi untuk mencegah penderita gangguan jiwa mengamuk,” jelas Dharma.
Karena alasan itulah, RSJ Sambang Lihum mendukung program bebas pasung di Kalimantan Selatan, agar seluruh pihak terlibat dalam penanganan orang dengan gangguan jiwa tersebut.
“Kami siap memberikan pelatihan kepada puskesmas untuk menangani pasien gangguan jiwa. Termasuk soal pengadaan obat-obatan. Sehingga mereka tidak perlu dibawa bolak-balik ke sini, jika sedang kambuh. Dengan begitu, pihak keluarga pun dapat turut terlibat mendampingi saat proses pemulihan,” tambahnya.

Di usianya yang ke-10 tahun ini, RSJ Sambang Lihum pun menambah sejumlah fasilitas yang dapat mendukung proses pemulihan pasien dengan gangguan jiwa. Diantaranya Taman Jendela Jiwa, yang nantinya digunakan sebagai sarana untuk integrated dan self healing para pasien. Keberhasilan RSJ Sambang Lihum selama 10 tahun ini, ternyata menjadi perhatian RSJ dari Serui-Papua, yang sengaja datang ke rumah sakit ini bertepatan pada peringatan hari jadinya pada Kamis (16/8). (RIW/RDM/MTB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

yd Project. | Newsphere by AF themes.